Adab Menyebarkan Ilmu dan Nasihat

Pendahuluan

Menyebarkan ilmu dan memberikan nasihat adalah amal yang sangat mulia di dalam Islam. Ilmu yang bermanfaat termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Begitu pula nasihat yang disampaikan dengan adab dan hikmah dapat membuka pintu hidayah bagi banyak orang. Namun, menyebarkan ilmu dan memberi nasihat harus dilakukan dengan cara yang benar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan mudarat. Artikel ini membahas etika menyampaikan ilmu dan nasihat berdasarkan tuntunan syariat.


Keutamaan Menyebarkan Ilmu dan Nasihat

Allah ﷻ berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (An-Naḥl: 125)

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Al-Bukhari, dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما)

Ini menunjukkan bahwa menyebarkan ilmu adalah kewajiban sesuai kemampuan, bukan berarti menjadi ustadz, tetapi menyampaikan kebenaran yang telah dipahami.


Adab Menyebarkan Ilmu

1. Ikhlas dalam Menyampaikan Ilmu

Semua dakwah dan nasihat harus diniatkan untuk mencari ridha Allah ﷻ, bukan untuk popularitas, debat, atau pencitraan.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (Al-Bayyinah: 5)

Ilmu yang disampaikan tanpa keikhlasan tidak akan memberi manfaat.


2. Menyampaikan Ilmu yang Pasti dan Shahih

Tidak boleh menyampaikan ilmu yang belum dipahami atau tidak memiliki dalil. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduk di neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

Maka, wajib bagi penyampai ilmu untuk memverifikasi dalil.


3. Menyampaikan dengan Hikmah dan Bahasa yang Lembut

Hikmah adalah cara terbaik dalam menyampaikan kebenaran.

Allah ﷻ berfirman:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا

“Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut.” (Ṭāhā: 44)

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan lembut, maka kepada sesama Muslim lebih layak dilakukan.


4. Menyesuaikan Nasihat dengan Kondisi Pendengar

Rasulullah ﷺ menyesuaikan cara berbicara sesuai kondisi sahabat yang bertanya. Beliau tidak memberikan jawaban yang sama kepada semua orang karena kebutuhan mereka berbeda-beda.

Inilah makna hikmah: tepat sasaran, sesuai waktu, dan sesuai kemampuan penerima.


5. Tidak Menghakimi dan Tidak Merendahkan

Nasihat bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memperbaiki. Allah ﷻ melarang mencela:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian saling mencela.” (Al-Ḥujurāt: 11)

Nasihat harus penuh kasih sayang, bukan mencari kesalahan.


6. Menyampaikan Ilmu Sedikit demi Sedikit

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْتَدُوا بِأَحْوَالِ النَّاسِ

“Sesuaikanlah penyampaian dengan kondisi manusia.” (Makna dari berbagai atsar ulama)

Penyampaian bertahap membuat ilmu lebih mudah diterima dan diamalkan.


7. Mengamalkan Ilmu Sebelum Menyebarkannya

Pengaruh terbesar dari ilmu adalah teladan. Allah ﷻ mencela orang yang berkata tetapi tidak mengamalkannya:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Sangat besar kebencian Allah terhadap orang yang mengatakan apa yang tidak ia lakukan.” (Ash-Shaff: 3)


Adab Memberi Nasihat

1. Memberi Nasihat dengan Rahasia (Tidak di Depan Umum)

Para ulama berkata:

النَّصِيحَةُ فِي الْخَفَاءِ نَصِيحَةٌ وَالنَّصِيحَةُ فِي الْعَلَانِيَةِ فَضِيحَةٌ

“Nasihat yang diberikan secara tersembunyi adalah nasihat, sedangkan nasihat terang-terangan adalah celaan.”

Menasihati secara tertutup menjaga kehormatan orang yang dinasihati.


2. Memiliki Rasa Kasih Sayang

Nasihat yang baik lahir dari hati yang penuh kasih.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Anas رضي الله عنه)

Nasihat tanpa kasih sayang akan terasa seperti penghinaan.


3. Tidak Memaksa

Tugas seorang Muslim hanyalah menyampaikan. Hidayah adalah hak Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai.” (Al-Qaṣaṣ: 56)


4. Menyampaikan dengan Dalil dan Penjelasan yang Jelas

Tidak cukup hanya berkata “ini salah’’ tanpa memberikan dasar ilmu.


5. Bersabar terhadap Reaksi Orang yang Dinasehati

Tidak semua nasihat diterima dengan mudah. Rasulullah ﷺ berdakwah lebih dari 20 tahun dengan penuh kesabaran.


Etika Menyebarkan Ilmu di Media Sosial

1. Hindari Menyebarkan Informasi Tanpa Verifikasi

Allah ﷻ berfirman:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah.” (Al-Ḥujurāt: 6)

2. Tidak Membuat Konten yang Menyesatkan

Konten agama harus benar dari sisi dalil.

3. Hindari Debat Kusir Online

Debat tanpa ilmu hanya menimbulkan permusuhan.

4. Jaga Adab dalam Berkomentar

Adab di dunia nyata sama pentingnya dengan adab di dunia digital.


Kesimpulan

Menyebarkan ilmu dan memberikan nasihat adalah amalan mulia yang harus dilakukan dengan adab: ikhlas, lembut, jelas, penuh hikmah, dan disertai pengamalan. Ilmu yang disampaikan dengan adab akan membawa keberkahan, sementara nasihat yang diberikan dengan kasih sayang akan membuka pintu hidayah. Dengan menjaga etika dalam menyampaikan ilmu, seorang Muslim dapat menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top