Pendahuluan
Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia, dikenal sebagai muadzin Rasulullah ﷺ bersama Bilal bin Rabah رضي الله عنه. Beliau tuna netra, namun memiliki kedudukan tinggi dalam Islam karena ketakwaannya. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surah ‘Abasa ketika Allah ﷻ menegur Nabi ﷺ karena berpaling dari Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه dan lebih memperhatikan pembesar Quraisy. Hal ini menunjukkan kemuliaan dan kehormatannya di sisi Allah ﷻ.
Nasab dan Latar Belakang
Beliau bernama lengkap Abdullah bin Qais atau disebut juga Abdullah bin Umm Maktūm, dinisbatkan kepada ibunya yang bernama ‘Atikah binti ‘Abdullah. Beliau termasuk sahabat Muhajirin yang berhijrah ke Madinah dan sangat dicintai oleh Nabi ﷺ.
Meski beliau buta sejak lahir, hal tersebut tidak menghalanginya untuk menjadi sahabat yang taat, selalu berusaha mendekat kepada Allah ﷻ, serta aktif dalam dakwah dan ibadah.
Kedudukan dalam Al-Qur’an
Kisah Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه disebutkan dalam firman Allah ﷻ:
عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى
“Ia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah engkau (Muhammad), barangkali ia ingin membersihkan dirinya. Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu bermanfaat baginya.” (QS. ‘Abasa 1–4)
Ayat ini menunjukkan betapa Allah ﷻ memuliakan Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه, hingga teguran itu disampaikan untuk menghormatinya.
Muadzin Rasulullah ﷺ
Beliau termasuk salah satu muadzin utama Rasulullah ﷺ. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketika Bilal رضي الله عنه mengumandangkan adzan Subuh, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
“Sesungguhnya Bilal beradzan di waktu malam. Maka makan dan minumlah hingga Abdullah bin Umm Maktūm beradzan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan keutamaan beliau sebagai penanda masuknya waktu Subuh, meskipun beliau tidak dapat melihat.
Penanggung Jawab Madinah Saat Nabi ﷺ Bepergian
Dalam beberapa perjalanan Nabi ﷺ seperti Perang Badar dan Uhud, Rasulullah ﷺ menunjuk Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه sebagai pengganti beliau di Madinah. Ini menunjukkan kepercayaan yang sangat besar dari Nabi ﷺ kepada beliau.
Semangat Jihad Meskipun Tuna Netra
Walaupun memiliki keterbatasan fisik, beliau tetap memiliki semangat jihad yang sangat tinggi. Beliau ikut serta dalam Perang Qadisiyyah di masa Khalifah Umar رضي الله عنه dan menjadi pembawa bendera kaum Muslimin.
Diriwayatkan bahwa beliau gugur sebagai syahid dalam peperangan tersebut, dan darah syahadahnya menjadi bukti ketulusan pengabdian kepada Allah ﷻ.
Pelajaran dari Kehidupannya
1. Keterbatasan bukan penghalang kemuliaan
Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah ﷻ bukan ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi oleh ketakwaan, keikhlasan, dan usaha maksimal dalam ketaatan.
2. Allah ﷻ memuliakan orang yang ingin belajar agama
Surah ‘Abasa menjadi bukti bahwa orang yang datang untuk menuntut ilmu agama memiliki kedudukan besar di sisi Allah ﷻ.
3. Kesungguhan dalam ibadah dan jihad
Beliau tidak menjadikan kebutaan sebagai alasan untuk tidak ikut serta dalam jihad dan dakwah. Ini mengajarkan umat Islam agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan meninggalkan kewajiban.
4. Rasulullah ﷺ sangat menghormati beliau
Sikap Nabi ﷺ setelah turunnya Surah ‘Abasa menjadi teladan betapa pemimpin harus menghargai orang-orang yang tulus mencari ilmu dan hidayah.
Wafatnya
Beliau syahid pada Perang Qadisiyyah sekitar tahun 14 H. Beliau wafat dalam keadaan membawa panji Islam, sebuah kemuliaan besar bagi seorang sahabat yang setia.
Penutup
Abdullah bin Umm Maktūm رضي الله عنه adalah teladan kesungguhan, kerendahan hati, dan cinta kepada Allah ﷻ. Namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan dari Allah ﷻ kepada seorang hamba yang tulus dan ikhlas. Semoga Allah ﷻ meridhainya dan mengumpulkan kita bersama para sahabat dalam surga-Nya yang mulia.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



