Pendahuluan
Zaid bin Tsābit رضي الله عنه adalah salah satu sahabat mulia yang memiliki peran sangat besar dalam sejarah Islam, khususnya dalam penjagaan dan pembukuan Al-Qur’an. Ia dikenal sebagai penulis wahyu Rasulullah ﷺ, ahli bahasa, dan tokoh sentral dalam penyusunan Mushaf Al-Qur’an pada masa Khulafā’ Rāsyidīn. Kiprahnya menjadi bukti bahwa perjuangan Islam tidak hanya dengan pedang, tetapi juga dengan ilmu, ketelitian, dan amanah.
Profil Singkat Zaid bin Tsābit رضي الله عنه
Zaid bin Tsābit رضي الله عنه berasal dari kalangan Anshar, suku Khazraj, Madinah. Ia masuk Islam pada usia yang masih sangat muda dan tumbuh dalam lingkungan keimanan serta kecintaan kepada ilmu. Kecerdasannya menonjol sejak dini, terutama dalam bahasa Arab dan kemampuan hafalan.
Zaid dikenal sebagai sosok yang tenang, cermat, dan sangat amanah. Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan kepercayaan besar kepadanya dalam urusan yang sangat krusial bagi umat Islam.
Zaid bin Tsābit رضي الله عنه sebagai Penulis Wahyu
Salah satu keutamaan terbesar Zaid bin Tsābit رضي الله عنه adalah kedudukannya sebagai penulis wahyu Rasulullah ﷺ. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah ﷺ memanggil para penulis wahyu untuk mencatat ayat-ayat Al-Qur’an, dan Zaid termasuk yang paling sering dipanggil.
Kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ dalam tugas ini menjadikannya sangat memahami urutan ayat, tempat ayat dalam surah, serta cara penulisan Al-Qur’an sebagaimana diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
Keistimewaan Ilmu dan Bahasa
Zaid bin Tsābit رضي الله عنه memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bahkan memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Ibrani (Yahudi) agar dapat membaca dan menulis surat-surat mereka.
Dalam riwayat shahih disebutkan bahwa Zaid bin Tsābit رضي الله عنه mempelajari bahasa tersebut dalam waktu yang sangat singkat, menunjukkan kecerdasan dan kesungguhannya dalam menunaikan perintah Rasulullah ﷺ.
Peran Sentral dalam Pengumpulan Al-Qur’an
Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Abu Bakr رضي الله عنه
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, banyak para penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan, terutama pada Perang Yamamah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya sebagian Al-Qur’an.
Atas usulan Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Tugas besar ini diserahkan kepada Zaid bin Tsābit رضي الله عنه.
Zaid sendiri mengungkapkan beratnya amanah tersebut, karena ini adalah pekerjaan yang sangat besar dan menentukan bagi umat Islam.
Ia berkata dalam riwayat shahih:
إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ: إِنَّكَ شَابٌّ عَاقِلٌ، وَلَا نَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ
“Sesungguhnya Abu Bakr رضي الله عنه mengutusku dan berkata: ‘Engkau adalah pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu, dan engkau dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah ﷺ. Maka telusurilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah ia.’”
Penyusunan Mushaf pada Masa Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه
Pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه, wilayah Islam semakin luas dan perbedaan dialek bacaan mulai tampak di berbagai negeri. Demi menjaga persatuan umat, Utsman رضي الله عنه kembali menunjuk Zaid bin Tsābit رضي الله عنه sebagai ketua tim penyusunan Mushaf standar.
Zaid bekerja bersama beberapa sahabat Quraisy untuk menyalin Mushaf berdasarkan dialek Quraisy, sebagaimana Al-Qur’an diturunkan. Mushaf inilah yang kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani dan menjadi rujukan umat Islam hingga hari ini.
Kedudukan Zaid bin Tsābit رضي الله عنه dalam Fikih dan Fatwa
Selain sebagai ahli Al-Qur’an, Zaid bin Tsābit رضي الله عنه juga dikenal sebagai faqih, khususnya dalam ilmu faraidh (pembagian warisan). Para sahabat besar sering merujuk kepadanya dalam masalah warisan karena ketajaman ilmunya.
Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه dan para sahabat lainnya sangat menghormati pendapat Zaid dalam urusan hukum, menunjukkan kedalaman ilmunya dan kepercayaan umat kepadanya.
Akhlak dan Keteladanan
Zaid bin Tsābit رضي الله عنه adalah sosok yang tawadhu’, tenang, dan sangat berhati-hati dalam agama. Meski memiliki kedudukan tinggi, ia tidak sombong dan selalu menempatkan amanah di atas segalanya.
Ia wafat pada tahun 45 H di Madinah. Saat wafatnya, Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa telah wafat seorang alim besar umat ini, ungkapan yang menunjukkan betapa besar kehilangan kaum Muslimin.
Pelajaran Penting dari Zaid bin Tsābit رضي الله عنه
-
Ilmu adalah pilar utama penjagaan agama – Al-Qur’an terjaga melalui tangan-tangan amanah para ulama.
-
Amanah melahirkan kepercayaan besar – Zaid dipercaya karena kejujuran dan ketelitiannya.
-
Pemuda memiliki peran strategis dalam Islam – Usia muda bukan penghalang untuk memikul amanah besar.
-
Persatuan umat di atas segalanya – Penyusunan Mushaf Utsmani demi menjaga kesatuan kaum Muslimin.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



