Sang Penjaga Hadits dan Guru Para Imam
Waki’ bin Al-Jarrah bin Malih Ar-Ru’asi رحمه الله lahir di Kufah pada tahun 128 Hijriah. Beliau merupakan salah satu pilar utama dalam jajaran ulama hadits di masa Tabi’ut Tabi’in. Selain memiliki hafalan yang sangat kuat, beliau sangat terkenal karena keshalehan pribadinya serta peran besarnya dalam mendidik generasi imam madzhab, termasuk Imam Asy-Syafi‘i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Kecerdasan Hafalan yang Luar Biasa
Awalnya, Waki’ bin Al-Jarrah رحمه الله tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai ilmu karena ayahnya bekerja mengelola baitul mal. Beliau menunjukkan kecerdasan yang menakjubkan dengan mampu menghafal ribuan hadits lengkap beserta sanadnya tanpa perlu banyak mengulang. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi para pemilik ilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, kekuatan hafalan Waki’ menjadikannya sebagai rujukan utama para penuntut ilmu di Irak. Beliau sering kali menyampaikan hadits tanpa melihat catatan sedikit pun, namun riwayatnya tetap sangat akurat. Maka, para ulama sezamannya mengakui bahwa Waki’ adalah gudang ilmu yang berjalan pada masanya. Ketekunan beliau dalam menjaga kemurnian Sunnah Nabi ﷺ membuahkan hasil berupa ribuan murid yang tersebar di seluruh penjuru dunia Islam.
Kaitan Ilmu dengan Meninggalkan Maksiat
Selain pakar hadits, Waki’ bin Al-Jarrah رحمه الله sangat terkenal karena nasihat-nasihatnya yang menyentuh jiwa tentang adab menuntut ilmu. Salah satu kisah yang paling melegenda adalah ketika Imam Asy-Syafi‘i mengeluhkan lemahnya hafalannya kepada beliau. Waki’ kemudian memberikan nasihat agar sang murid menjauhi maksiat karena ilmu adalah cahaya dari Allah ﷻ. Beliau memahami bahwa kesucian hati adalah syarat mutlak untuk menerima kebenaran.
Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau senantiasa menjaga dirinya dari perkara syubhat dan rutin menghidupkan malamnya dengan ibadah. Beliau meyakini bahwa seorang ulama hadits harus mencerminkan perilaku yang selaras dengan apa yang ia riwayatkan. Selain itu, beliau sukses membuktikan bahwa keberkahan ilmu terletak pada ketakwaan dan ketulusan niat pelakunya. Kerendahan hatinya membuat beliau sangat disegani oleh para penguasa meskipun beliau tidak pernah mengejar jabatan duniawi.
Keteguhan dalam Berpegang pada Sunnah
Kemudian, peran Waki’ bin Al-Jarrah رحمه الله dalam membela Sunnah terlihat dari ketegasannya menghadapi berbagai paham yang menyimpang. Beliau senantiasa mendasarkan setiap ucapannya pada dalil yang shahih dari Al-Quran dan hadits. Beliau memahami bahwa keselamatan umat hanya terletak pada ketaatan kepada ajaran Rasulullah ﷺ yang murni. Allah ﷻ berfirman mengenai ketaatan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (QS. Al-Hasyr: 7).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau dalam majelis hadits tidak tergoyahkan oleh tekanan apa pun. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan sering membantu kesulitan finansial para muridnya yang miskin. Beliau sukses menanamkan prinsip-prinsip kejujuran intelektual kepada setiap orang yang berguru kepadanya. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh fondasi keilmuan Islam pada abad kedua Hijriah.
Wafatnya Sang Penjaga Wahyu
Pada akhirnya, Waki’ bin Al-Jarrah رحمه الله wafat pada tahun 197 Hijriah saat dalam perjalanan pulang setelah menunaikan ibadah haji. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan berupa murid-murid hebat yang menjadi pilar madzhab-madzhab besar. Meskipun jasadnya telah tiada, namun namanya tetap harum dalam setiap lembaran kitab hadits yang kita pelajari hari ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih. Beliau membuktikan bahwa penjagaan terhadap Sunnah memerlukan kebersihan hati dan kesungguhan dalam beribadah. Walaupun zaman terus berganti, sosok Waki’ bin Al-Jarrah akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya bagi para pencari kebenaran.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


