Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali dihadapkan pada ketidakpastian, kekhawatiran, dan berbagai masalah yang menguras pikiran. Di tengah kondisi tersebut, Islam memberikan sebuah konsep luar biasa agar hati tetap tenang dan urusan menjadi lancar, yaitu tawakal. Namun, banyak orang yang salah memahami tawakal hanya sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, tawakal yang benar adalah perpaduan antara kerja keras lahiriah dan ketergantungan hati yang penuh kepada Allah ﷻ.
Hakikat Tawakal: Antara Hati dan Anggota Badan
Tawakal secara bahasa berarti mewakilkan atau bersandar. Dalam syariat, tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah ﷻ dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
Penting untuk dipahami bahwa tawakal terletak di hati, sedangkan anggota badan tetap berkewajiban untuk berusaha (berikhtiar). Allah ﷻ berfirman mengenai perintah bertawakal bagi orang-orang yang beriman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Al-Ma’idah: 23)
Ayat ini menegaskan bahwa tawakal adalah bukti nyata dari keimanan seseorang. Semakin kuat iman seseorang, maka semakin besar pula tingkat tawakalnya kepada Allah ﷻ.
Belajar Tawakal dari Seekor Burung
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang bagaimana seharusnya seorang hamba bertawakal. Dari sahabat Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’)
Jika kita perhatikan hadits di atas, burung tidak hanya diam di sarangnya menunggu makanan jatuh dari langit. Burung tersebut tetap “pergi pada pagi hari” (berusaha), namun ia tidak merasa khawatir karena hatinya bergantung sepenuhnya kepada Sang Pemberi Rezeki.
Tawakal Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap tawakal berarti meninggalkan sebab atau usaha. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang untanya:
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, apakah aku ikat untaku lalu aku bertawakal, atau aku lepaskan saja lalu aku bertawakal? Beliau bersabda: Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakallah. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih dalam Shahih Sunan Tirmidzi)
Hadits ini adalah kaidah emas dalam tawakal: kita wajib menempuh sebab-sebab keberhasilan (seperti belajar untuk ujian, bekerja untuk nafkah, atau berobat saat sakit), namun kita tidak boleh bersandar pada usaha tersebut. Kita bersandar hanya kepada Allah ﷻ yang menentukan hasil akhir.
Manfaat Tawakal dalam Kehidupan
Seseorang yang menerapkan tawakal dengan benar dalam kesehariannya akan mendapatkan berbagai keutamaan, di antaranya:
-
Dicukupi Urusannya: Allah ﷻ berjanji akan menjadi penolong bagi siapa saja yang bertawakal kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. At-Talaq: 3)
-
Ketenangan Jiwa: Orang yang bertawakal tidak akan stres berlebihan jika gagal, karena ia tahu itu adalah takdir Allah ﷻ, dan ia tidak akan sombong jika berhasil, karena ia tahu itu adalah pertolongan Allah ﷻ.
-
Terlindung dari Gangguan Syaithan: Tawakal menjadi benteng yang kuat bagi seorang mukmin dari tipu daya syaitan.
Cara Mengamalkan Tawakal Setiap Hari
Lantas, bagaimana cara kita mempraktikkan tawakal dalam rutinitas?
-
Mulailah setiap aktivitas dengan doa, mengakui kelemahan diri di hadapan Allah ﷻ.
-
Lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai aturan syariat dan logika yang benar.
-
Setelah usaha dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah ﷻ dengan kelapangan hati (ridha).
Kesimpulan
Tawakal yang benar adalah kunci kebahagiaan. Ia menyatukan antara kerja keras duniawi dan ketenangan ukhrawi. Dengan mengikat unta (usaha) dan menyandarkan hati kepada Allah ﷻ, kita akan menjalani hidup tanpa beban yang berlebihan, karena kita tahu bahwa kita berada dalam lindungan Dzat yang Maha Mengatur segala urusan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

