Tamim Ad-Dari رضي الله عنه

Sahabat yang Bertemu Dajjal dan Pencetus Lampu Masjid

Tamim bin Aus Ad-Dari رضي الله عنه merupakan seorang sahabat Nabi ﷺ yang memiliki latar belakang unik. Sebelum memeluk Islam pada tahun ke-9 Hijriah, beliau adalah seorang pendeta Nasrani yang sangat taat di Palestina. Namun, setelah mendapatkan hidayah, beliau membaktikan seluruh hidupnya untuk Islam dan menjadi sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah ﷺ.

Kisah Pertemuan Fenomenal dengan Al-Jassasah dan Dajjal

Awalnya, Tamim Ad-Dari رضي الله عنه menjadi sangat terkenal karena sebuah peristiwa luar biasa saat beliau masih menganut Nasrani. Beliau bersama rombongannya terombang-ambing di lautan selama satu bulan hingga terdampar di sebuah pulau terpencil. Di sana, mereka bertemu dengan makhluk berbulu lebat bernama Al-Jassasah dan sesosok pria yang terbelenggu kuat, yakni Dajjal.

Setelah kembali dan memeluk Islam, Tamim menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Menariknya, Rasulullah ﷺ kemudian membenarkan cerita tersebut di hadapan para sahabat lainnya karena sesuai dengan apa yang beliau ﷺ sampaikan mengenai Dajjal. Allah ﷻ berfirman mengenai kebenaran informasi dari orang yang terpercaya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab: 70).

Peristiwa ini menjadi salah satu mukjizat kenabian karena Rasulullah ﷺ secara khusus meriwayatkan hadits dari sahabatnya sendiri, yaitu Tamim Ad-Dari رضي الله عنه.

Kontribusi Besar dalam Syiar Masjid Nabawi

Selanjutnya, Tamim Ad-Dari رضي الله عنه juga tercatat sebagai orang pertama yang membawa lampu minyak untuk menerangi Masjid Nabawi. Sebelumnya, para sahabat hanya menggunakan pelepah kurma yang dibakar sebagai alat penerangan. Oleh karena itu, saat beliau menyalakan lampu-lampu tersebut, Rasulullah ﷺ sangat gembira dan mendoakan beliau agar Allah ﷻ menerangi kuburnya.

Selain itu, Tamim juga menyumbangkan pemikiran untuk pembuatan mimbar bagi Rasulullah ﷺ agar suara beliau lebih terdengar saat berkhutbah. Kontribusi kreatif ini menunjukkan bahwa beliau sangat peduli terhadap kenyamanan ibadah umat Islam. Beliau memahami bahwa memakmurkan masjid adalah tugas mulia, sebagaimana firman Allah ﷻ:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS. At-Taubah: 18).

Kedalaman Ilmu dan Ketaatan Beribadah

Kemudian, Tamim Ad-Dari رضي الله عنه dikenal sebagai ahli ibadah yang sangat gemar membaca Al-Quran. Beliau sering kali menyelesaikan bacaan seluruh Al-Quran hanya dalam satu malam atau dalam satu rakaat shalat. Oleh sebab itu, ketakwaan beliau menjadi inspirasi bagi sahabat lainnya untuk meningkatkan kualitas spiritual mereka.

Beliau juga meriwayatkan hadits penting tentang hakikat agama. Dari Tamim Ad-Dari رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Agama itu adalah nasihat (HR. Muslim).

Nasihat tersebut mencakup ketulusan kepada Allah ﷻ, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslim, dan seluruh kaum Muslimin secara umum. Melalui hadits ini, Tamim mengajarkan bahwa Islam bukan sekadar ritual, melainkan hubungan yang jujur dan tulus kepada semua pihak.

Wafatnya Sang Penjaga Wahyu di Tanah Suci

Pada akhirnya, setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه, Tamim Ad-Dari رضي الله عنه memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Palestina. Beliau menetap di sana hingga akhir hayatnya dan terus menyebarkan ilmu kepada penduduk setempat. Kehadiran beliau menjadi berkah bagi wilayah Baitul Maqdis karena beliau membawa cahaya Sunnah ke tempat tersebut.

Tamim Ad-Dari رضي الله عنه wafat pada tahun 40 Hijriah dan jasadnya dimakamkan di Bait Jibrin, Palestina. Meskipun beliau telah tiada, namun warisannya berupa penerangan masjid dan hadits-hadits shahih tetap bermanfaat bagi umat hingga hari ini. Kehidupan beliau membuktikan bahwa hidayah dapat menyapa siapa saja, dan setiap keahlian yang dimiliki seseorang dapat menjadi sarana untuk memuliakan agama Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top