Hakim Legendaris yang Menjunjung Keadilan
Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi, atau yang lebih populer dengan panggilan Syuraih Al-Qadhi رحمه الله, merupakan sosok hakim paling fenomenal dalam sejarah Islam. Beliau lahir di Yaman dan memeluk Islam pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, meskipun beliau tidak sempat bertemu langsung dengan Nabi ﷺ. Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه mengangkatnya menjadi hakim di Kufah karena kecerdasan serta ketajaman firasatnya yang luar biasa dalam memutus perkara.
Menegakkan Keadilan Tanpa Pandang Bulu
Awalnya, Syuraih Al-Qadhi رحمه الله menunjukkan integritas yang sangat tinggi saat beliau harus menyidangkan perkara yang melibatkan para pemimpin besar. Beliau pernah memenangkan seorang rakyat jelata dalam persengketaan kuda melawan Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Selain itu, beliau juga pernah menolak kesaksian putra Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dalam kasus baju besi karena prinsip hukum yang ketat. Allah ﷻ memerintahkan setiap mukmin untuk berlaku adil dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil (QS. An-Nisa: 58).
Selanjutnya, keberanian Syuraih dalam menegakkan kebenaran menjadikannya simbol keadilan yang tidak tergoyahkan oleh jabatan maupun kekuasaan. Beliau sukses menjalankan amanah sebagai hakim selama kurang lebih enam puluh tahun di bawah kepemimpinan berbagai khalifah. Maka, setiap keputusannya selalu menjadi rujukan penting bagi perkembangan ilmu hukum dan peradilan dalam Islam.
Ketajaman Ilmu dan Kekuatan Argumen
Kemudian, Syuraih Al-Qadhi رحمه الله juga terkenal sebagai seorang fakih yang sangat mendalami maksud-maksud syariat secara mendalam. Beliau selalu berusaha mencari jalan tengah yang paling maslahat bagi pihak-pihak yang bersengketa sebelum menjatuhkan vonis hukum. Beliau memahami betul bahwa seorang hakim memikul beban yang sangat berat di akhirat kelak.
Ketaatannya kepada Sunnah Rasulullah ﷺ menjadi panduan utama dalam setiap proses pengambilan keputusan di pengadilan. Sebagaimana Buraidah bin Al-Hashib رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ وَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ وَاثْنَانِ فِي النَّارِ فَأَمَّا الَّذِي فِي الْجَنَّةِ فَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ
Hakim itu ada tiga macam, satu di surga dan dua di neraka. Adapun yang di surga adalah orang yang mengetahui kebenaran lalu dia memutuskan hukum dengannya (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Oleh sebab itu, Syuraih senantiasa bersikap hati-hati serta teliti dalam mendengarkan kesaksian dari setiap saksi yang hadir. Beliau seringkali menggunakan kecerdasan logikanya untuk mengungkap kebohongan yang coba disembunyikan oleh pihak yang bersalah. Ketajaman nalarnya membuat beliau mampu menyelesaikan sengketa yang paling rumit sekalipun dengan cara yang sangat elegan dan memuaskan semua pihak.
Kesalehan Hidup dan Keteladanan Akhlak
Selain sibuk di meja hijau, Syuraih Al-Qadhi رحمه الله juga merupakan seorang ahli ibadah yang sangat tekun menjaga hubungan dengan Tuhannya. Beliau sering menghabiskan malam-malamnya dengan shalat dan zikir setelah seharian penuh mengurus urusan manusia yang melelahkan. Beliau meyakini bahwa kejernihan hati adalah kunci utama untuk mendapatkan taufiq dari Allah ﷻ dalam memahami kebenaran.
Setiap ucapan dan nasihat beliau selalu mengandung hikmah yang mendalam bagi siapa pun yang mendengarnya. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya memiliki hikmah:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak (QS. Al-Baqarah: 269).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau tidak hanya berasal dari palu hakimnya, tetapi juga dari kemurnian akhlak yang beliau tunjukkan sehari-hari. Beliau sukses mendidik masyarakat Kufah untuk menghargai supremasi hukum dan kejujuran dalam setiap urusan muamalah. Meskipun beliau hidup di tengah berbagai dinamika politik yang keras, beliau tetap konsisten menjaga netralitas dan martabat lembaga peradilan.
Akhir Hayat Sang Hakim Agung
Pada akhirnya, Syuraih Al-Qadhi رحمه الله wafat pada usia yang sangat lanjut, yakni sekitar seratus tahun, pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan berupa sistem peradilan yang sangat rapi serta prinsip-prinsip hukum yang abadi. Walaupun jasad beliau telah tiada, namun kisah-kisah keadilan beliau tetap menginspirasi para hakim dan praktisi hukum hingga detik ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keadilan adalah fondasi utama bagi kedamaian sebuah bangsa. Beliau membuktikan bahwa seorang mukmin harus memiliki keberanian untuk membela hak orang kecil di hadapan penguasa sekalipun. Walaupun zaman terus berubah, sosok Syuraih Al-Qadhi رحمه الله akan selalu tercatat sebagai teladan agung dalam penegakan hukum Islam yang jujur.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



