Syaddad bin Aus رضي الله عنه

Sang Pemilik Ilmu dan Hikmah

Syaddad bin Aus bin Tsabit Al-Anshari رضي الله عنه merupakan seorang sahabat Nabi ﷺ yang memiliki kedudukan istimewa dalam hal keilmuan dan kezuhudan. Beliau adalah keponakan dari penyair Rasulullah ﷺ, yakni Hassan bin Tsabit رضي الله عنه. Selain karena ketaatannya, para sahabat lain mengenal beliau sebagai sosok yang sangat bijaksana serta memiliki pemahaman agama yang sangat mendalam.

Kedalaman Ilmu dan Ketakwaan Syaddad bin Aus

Awalnya, Syaddad bin Aus رضي الله عنه tumbuh dalam lingkungan Anshar yang penuh dengan semangat membela Islam. Beliau senantiasa menghabiskan waktunya untuk menyerap setiap tetes ilmu langsung dari lisan Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, Abu Darda رضي الله عنه pernah memuji beliau dengan mengatakan bahwa setiap orang memiliki kelebihan, dan kelebihan Syaddad adalah pada ketajaman ilmunya. Allah ﷻ berfirman mengenai orang-orang berilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, beliau sangat terkenal karena sifat khauf atau rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, beliau seringkali menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah serta menangis karena merenungkan hari akhirat. Akibatnya, beliau tumbuh menjadi pribadi yang sangat berhati-hati dalam setiap tindakan dan ucapan.

Perawi Sayyidul Istighfar yang Masyhur

Salah satu kontribusi terbesar Syaddad bin Aus رضي الله عنه bagi umat Islam adalah riwayat haditsnya tentang doa yang sangat agung. Beliau meriwayatkan hadits Sayyidul Istighfar (pemimpin istighfar) yang mengandung makna tauhid sangat dalam. Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab, tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau (HR. Bukhari).

Selain itu, beliau juga menyampaikan hadits penting tentang kecerdasan seorang mukmin. Beliau menyebutkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya serta beramal untuk kehidupan setelah mati. Oleh sebab itu, hadits ini menjadi pedoman penting dalam pembentukan akhlak kaum Muslimin.

Menetap di Baitul Maqdis dan Masa Tua

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Syaddad bin Aus رضي الله عنه memutuskan untuk pindah dan menetap di Baitul Maqdis (Palestina). Beliau memilih wilayah tersebut karena keberkahannya serta ingin menjauhi fitnah duniawi yang mulai bermunculan. Oleh karena itu, beliau menjadi rujukan utama bagi penduduk Palestina dalam urusan agama serta akhlak.

Meskipun beliau memiliki kesempatan untuk meraih jabatan duniawi, namun beliau lebih memilih untuk hidup sederhana. Beliau senantiasa mengingatkan umat agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang fana. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Al-Hadid: 20).

Oleh sebab itu, kehidupan beliau menjadi teladan nyata tentang bagaimana menjaga istiqamah di tengah perubahan zaman. Kemudian, beliau menghabiskan sisa usianya untuk mengajar dan menyebarkan Sunnah Nabi ﷺ kepada generasi Tabi’in.

Wafatnya Sang Penjaga Sunnah

Pada akhirnya, Syaddad bin Aus رضي الله عنه wafat di Baitul Maqdis pada tahun 58 Hijriah dalam usia sekitar 75 tahun. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan ilmu yang sangat berharga bagi generasi setelahnya. Oleh sebab itu, makam beliau di Palestina hingga kini menjadi saksi bisu perjalanan seorang sahabat yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu serta ketakwaan.

Seluruh umat Islam hingga saat ini masih merasakan manfaat dari hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Selain itu, kehidupan beliau menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan sejati terletak pada kedalaman ilmu serta rasa takut yang tulus kepada Allah ﷻ. Walaupun jasadnya telah tiada, namun keberkahan ilmunya tetap mengalir melalui lisan-lisan orang yang beristighfar.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top