Bulan Sya’ban hadir sebagai ruang bagi setiap Muslim untuk melatih keteraturan hidup sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Kehadirannya berfungsi sebagai madrasah atau sekolah kedisiplinan yang sangat efektif untuk membentuk karakter tangguh seorang hamba. Tanpa adanya kedisiplinan yang terlatih di bulan ini, seseorang akan sering kali merasa kesulitan untuk menjaga konsistensi ibadahnya pada masa yang akan datang.
Membangun Keteraturan Ibadah
Kedisiplinan dalam Islam merupakan sebuah prinsip yang sangat mendasar karena setiap ibadah telah Allah ﷻ tetapkan waktunya dengan sangat presisi. Seseorang yang disiplin di bulan Sya’ban akan memiliki kesiapan mental dan fisik yang jauh lebih matang saat menjalankan puasa sebulan penuh. Oleh karena itu, kita perlu memulainya dengan mendisiplinkan diri pada hal-hal kecil seperti shalat di awal waktu dan merutinkan dzikir.
Allah ﷻ memberikan penekanan bahwa setiap amal yang kita kerjakan haruslah dilakukan dengan penuh ketelitian dan keteraturan. Allah ﷻ berfirman dalam kitab-Nya mengenai pentingnya menjaga ketetapan waktu:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisa: 103).
Meneladani Disiplin Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ memberikan teladan terbaik mengenai bagaimana seorang hamba harus mendisiplinkan diri dalam ketaatan meskipun di bulan yang sering dilalaikan manusia. Melalui penuturan sahabat Usamah bin Zaid رضي الله عنهما, kita dapat melihat bahwa Nabi ﷺ tetap istiqamah menjaga kualitas amalnya di bulan Sya’ban. Beliau ﷺ tidak membiarkan waktu berlalu tanpa makna karena menyadari bahwa setiap amal akan segera dilaporkan kepada Tuhan semesta alam.
عَنْ أُسَامةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما, beliau berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau ﷺ menjawab: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal ibadah naik kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amalku naik saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani menilai hasan hadits ini dalam Shahih Sunan An-Nasa’i nomor 2357).
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa kedisiplinan yang lahir dari kecintaan kepada syariat akan membuahkan ketenangan batin yang luar biasa. Seseorang yang sudah terbiasa disiplin di madrasah Sya’ban akan mampu menjaga ritme ibadahnya hingga akhir hayat nanti. Jadi, marilah kita perkuat komitmen diri kita masing-masing untuk tidak menyia-nyiakan waktu berharga yang masih tersisa di bulan ini.
Strategi Praktis Melatih Disiplin
Kita dapat memulai latihan disiplin ini dengan cara membuat jadwal harian yang seimbang antara urusan duniawi dan ukhrawi secara proporsional. Selain itu, mari kita hindari sifat menunda-nunda kebaikan karena hal tersebut merupakan pintu masuk utama bagi syaitan untuk merusak ketaatan. Kesungguhan dalam menjaga rutinitas positif di bulan Sya’ban akan membentuk kepribadian yang lebih berwibawa dan teratur dalam setiap langkah.
Apabila kedisiplinan sudah menjadi pakaian sehari-hari, maka menjalankan ibadah sunnah lainnya akan terasa sebagai sebuah kebutuhan yang nikmat. Kekuatan seorang mukmin sejati terletak pada kemampuannya untuk tetap patuh pada aturan Rabb-Nya meskipun sedang tidak ada orang yang melihatnya. Maka dari itu, gunakanlah momentum Sya’ban ini sebagai ajang untuk memperbaiki pola hidup yang mungkin masih berantakan selama ini.
Menuju Ramadhan dengan Karakter Unggul
Menjadikan Sya’ban sebagai madrasah disiplin adalah investasi spiritual yang paling menguntungkan bagi setiap hamba yang mengharap rida-Nya. Sya’ban mengajarkan kita bahwa kesuksesan yang besar hanya bisa diraih dengan keteraturan dan kesabaran yang terus dipupuk secara berkesinambungan. Jadi, marilah kita melangkah menuju Ramadhan dengan karakter yang lebih disiplin dan jiwa yang lebih siap untuk meraih puncak ketakwaan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|
