Salim bin Abdullah bin Umar رحمه الله

Sang Pewaris Ketakwaan Ibnu Umar

Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab رحمه الله menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara tujuh fakih Madinah. Beliau tumbuh dalam asuhan ayahnya, Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, yang terkenal sebagai sahabat paling bersemangat dalam mengikuti Sunnah Nabi ﷺ. Selain mewarisi kemuliaan nasab dari kakeknya, Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau juga menyerap karakter kezuhudan serta ketegasan dalam memegang kebenaran.

Menimba Ilmu dari Madrasah Nabawi

Awalnya, Salim bin Abdullah رحمه الله mendapatkan limpahan ilmu langsung dari ayahnya serta Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها. Beliau sangat tekun memperhatikan setiap gerak-gerik dan fatwa para sahabat senior agar dapat mengamalkannya secara tepat. Oleh karena itu, para ulama menobatkannya sebagai salah satu perawi hadits paling shahih (ashahhul asanid) dari jalur ayahnya. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan mulia bagi mereka yang menuntut ilmu:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, pemahaman Salim yang mendalam menjadikannya pilar utama ilmu di Madinah. Beliau tidak pernah ragu dalam menyampaikan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan penguasa yang zalim. Maka, penduduk Madinah senantiasa menaruh rasa hormat yang sangat besar kepada beliau karena integritasnya yang tanpa celah.

Kedermawanan dan Kezuhudan yang Menakjubkan

Selain cerdas, Salim bin Abdullah رحمه الله sangat terkenal karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan dunia. Beliau lebih sering terlihat memakai pakaian yang kasar serta membagikan kekayaannya kepada fakir miskin di Madinah. Beliau memahami bahwa harta hanyalah titipan Allah ﷻ yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, Salim sangat menjauhi pintu-pintu penguasa agar hatinya tetap bersih dari pengaruh keduniawian. Beliau sering kali memberikan teguran keras kepada para pemimpin agar tetap takut kepada Allah ﷻ dalam menjalankan amanah. Keteladanan ini beliau ambil dari kakeknya, Umar bin Khattab, yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Kedudukan dalam Fikih dan Hadits

Kemudian, peranan Salim dalam perkembangan hukum Islam sangat besar melalui keterlibatannya dalam dewan fakih Madinah. Beliau bersama para ulama lainnya rutin memberikan fatwa yang menjadi fondasi bagi Mazhab Maliki di kemudian hari. Beliau meyakini bahwa setiap amalan harus memiliki dasar dalil yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah. Allah ﷻ berfirman mengenai ketaatan:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu (QS. An-Nisa: 59).

Selanjutnya, Salim sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits agar tidak terjadi kesalahan sedikit pun. Beliau sering mengingatkan para muridnya agar selalu waspada terhadap hadits-hadits yang tidak memiliki sanad yang jelas. Kejujuran intelektual ini menjadikannya salah satu rujukan utama bagi Imam Az-Zuhri dan ulama besar lainnya dalam menyusun kitab hadits.

Akhir Hayat Sang Imam Zuhud

Pada akhirnya, Salim bin Abdullah bin Umar رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 106 Hijriah pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik. Kepergiannya membuat penduduk Madinah merasa kehilangan sosok pelindung ilmu dan keshalehan. Meskipun raga beliau telah tiada, namun metode kezuhudan serta riwayat-riwayat shahihnya tetap hidup dan terus dipelajari oleh umat Islam.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seseorang lahir dari ketaatannya yang mutlak kepada syariat Allah ﷻ. Beliau membuktikan bahwa menjadi keturunan orang besar adalah sebuah tanggung jawab untuk menjadi hamba yang lebih bertaqwa. Walaupun zaman terus berubah, sosok Salim bin Abdullah رحمه الله akan selalu tercatat sebagai permata dalam sejarah keemasan Islam.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top