Sa‘id bin Jubair رحمه الله

Sang Ulama Penguasa Ilmu dan Simbol Keteguhan

Sa‘id bin Jubair رحمه الله merupakan sosok ulama besar dari kalangan tabi’in yang memiliki pengaruh luar biasa dalam sejarah Islam. Beliau lahir di Kufah dan menjadi salah satu murid yang paling cemerlang di bawah bimbingan langsung Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما. Keunggulan beliau mencakup berbagai bidang ilmu seperti tafsir, fikih, dan hadits, sehingga para ulama sezamannya sangat menghormati kedalaman wawasannya.

Murid Utama Samudra Ilmu Ibnu Abbas

Awalnya, Sa‘id bin Jubair رحمه الله menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menimba ilmu dari para sahabat besar. Beliau sukses menyerap ilmu tafsir dari Ibnu Abbas hingga sang guru sendiri memberikan pengakuan atas kehebatannya. Allah ﷻ menjanjikan derajat yang tinggi bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Allah ﷻ berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, ketekunan Sa‘id dalam belajar menjadikannya rujukan utama bagi penduduk Kufah dan wilayah lainnya. Beliau memahami makna Al-Quran secara mendalam serta mampu menjelaskan hukum-hukum agama dengan sangat jernih. Oleh karena itu, Ibnu Abbas رضي الله عنهما pernah memerintahkan penduduk Kufah untuk bertanya kepada Sa‘id bin Jubair saat beliau masih hidup. Kepercayaan ini membuktikan betapa matangnya pemahaman agama yang Sa‘id miliki sejak usia muda.

Keteguhan Prinsip di Hadapan Penguasa

Kemudian, sisi yang paling menonjol dari kehidupan Sa‘id bin Jubair رحمه الله adalah keberaniannya dalam memegang prinsip kebenaran. Beliau harus berhadapan dengan gubernur Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi karena ketidaksukaannya terhadap ketidakadilan. Meskipun menghadapi ancaman hukuman mati, namun Sa‘id tetap tegar serta tidak mau mengorbankan integritas imannya. Beliau meyakini bahwa ketaatan tertinggi hanyalah milik Allah ﷻ semata.

Beliau memegang teguh ajaran Rasulullah ﷺ untuk selalu bersikap jujur meskipun dalam keadaan yang sangat sulit. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, Sa‘id menghadapi ajal dengan penuh ketenangan serta keimanan yang sangat kokoh. Keberaniannya menyuarakan kebenaran menjadikannya teladan abadi bagi setiap Muslim dalam menjaga kehormatan agama. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada keberanian membela syariat meskipun harus menanggung risiko yang besar.

Kedalaman Ibadah dan Kecintaan pada Al-Quran

Selain aktif mengajar, Sa‘id bin Jubair رحمه الله juga merupakan seorang ahli ibadah yang sangat disiplin. Beliau sering menghidupkan malam-malamnya dengan shalat tahajud serta rutin mengkhatamkan Al-Quran. Setiap bacaan ayat suci beliau hayati dengan penuh rasa takut kepada Allah ﷻ hingga seringkali air matanya menetes membasahi wajahnya. Allah ﷻ memuji karakter hamba-Nya yang bertaqwa:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, kewibawaan beliau terpancar bukan hanya dari keluasan ilmunya, melainkan juga dari kedalaman spiritualnya. Beliau senantiasa mengingatkan murid-muridnya agar selalu mengamalkan setiap ilmu yang telah mereka dapatkan. Selain itu, beliau menekankan bahwa zikir dan doa adalah senjata utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi fitnah dunia. Keistikamahannya dalam beribadah memberikan pengaruh positif yang sangat luas bagi tatanan sosial masyarakat Kufah.

Wafatnya Sang Imam dan Doa Terakhir

Pada akhirnya, Sa‘id bin Jubair رحمه الله menemui syahidnya setelah dieksekusi oleh Al-Hajjaj pada tahun 95 Hijriah. Sebelum wafat, beliau memanjatkan doa agar Allah ﷻ tidak memberikan kesempatan bagi Al-Hajjaj untuk membunuh orang lain setelah dirinya. Doa tersebut Allah ﷻ kabulkan karena tak lama kemudian sang gubernur tersebut jatuh sakit dan meninggal dunia. Kepergian Sa‘id meninggalkan duka mendalam sekaligus kebanggaan bagi umat Islam atas keteguhan sikapnya.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu yang bermanfaat harus berbuah keberanian dan keshalehan. Beliau membuktikan bahwa pangkat dan harta tidak boleh merusak kejujuran seorang ulama dalam menyampaikan risalah Allah ﷻ. Walaupun jasadnya telah tiada, namun warisan tafsir dan haditsnya tetap menjadi rujukan utama hingga saat ini. Sosok Sa‘id bin Jubair رحمه الله akan selalu tercatat sebagai permata dalam sejarah perjuangan ulama tabi’in.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top