Rabi’ul Awwal: Bulan Kelahiran Nabi ﷺ, Bulan Penuh Ibrah

Pendahuluan

Rabi’ul Awwal adalah bulan yang sangat bersejarah dalam perjalanan Islam, karena di bulan inilah Rasulullah ﷺ dilahirkan. Kelahiran beliau bukan hanya menjadi kabar gembira bagi umat manusia, tetapi juga titik awal hadirnya cahaya petunjuk yang menyinari kegelapan jahiliyah. Namun, hakikat mengambil ibrah dari bulan ini bukan sekadar merayakan, melainkan meneladani risalah dan perjuangan Nabi ﷺ.

Kelahiran Nabi ﷺ: Rahmat bagi Alam Semesta

Allah ﷻ berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menegaskan bahwa kelahiran dan diutusnya Nabi ﷺ adalah bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada seluruh makhluk. Beliau membawa risalah tauhid, membebaskan manusia dari kesyirikan, serta mengajarkan akhlak mulia.

Teladan dari Perjalanan Hidup Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ dilahirkan dalam keadaan yatim, tumbuh dalam kesederhanaan, dan menghadapi berbagai ujian sejak kecil. Hal ini memberikan pelajaran penting bahwa kehormatan dan kemuliaan tidak terletak pada harta dan status dunia, tetapi pada ketakwaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad no. 8952, dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa kelahiran beliau adalah momentum perbaikan akhlak dan pembentukan umat dengan nilai-nilai luhur.

Menyikapi Bulan Rabi’ul Awwal dengan Bijak

Sayangnya, sebagian orang menjadikan bulan Rabi’ul Awwal hanya sebatas seremoni dengan tradisi yang tidak bersumber dari sunnah. Padahal, yang lebih utama adalah memperbanyak shalawat, membaca sirah Nabi ﷺ, serta berusaha meneladani beliau dalam ibadah, akhlak, dan dakwah.

Allah ﷻ berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat mengambil ibrah dari bulan kelahiran Nabi ﷺ adalah dengan menjadikan beliau sebagai teladan.

Penutup

Rabi’ul Awwal adalah momentum untuk memperkuat kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ dengan cara yang benar. Bukan sekadar seremonial, tetapi dengan menghidupkan sunnah beliau, meneladani akhlaknya, serta memperjuangkan dakwah tauhid sebagaimana beliau ajarkan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top