Sang Penjaga Amanah Ilmu Ibnu Umar
Nafi’ bin Sarjis Abu Abdullah Al-Madani, atau yang lebih kondang dengan sebutan Imam Nafi’ Al-Adawi رحمه الله, merupakan sosok ulama besar dari kalangan Tabi’in. Beliau memiliki latar belakang sebagai seorang maula (mantan budak) milik sahabat mulia Abdullah bin Umar رضي الله عنهما. Meskipun berawal dari status hamba sahaya, namun Allah ﷻ mengangkat derajatnya menjadi samudera ilmu yang menerangi kota Madinah.
Setia Mendampingi Sang Guru Sunnah
Awalnya, Nafi’ bin Sarjis رحمه الله mendampingi Abdullah bin Umar رضي الله عنهما selama tiga puluh tahun dalam berbagai perjalanan dan majelis ilmu. Beliau menyerap setiap detail fatwa serta pengamalan sunnah dari gurunya dengan sangat teliti. Kesetiaan ini membuahkan kedekatan yang luar biasa sehingga Nafi’ menjadi orang yang paling tahu tentang ilmu Ibnu Umar. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi para penuntut ilmu dalam Al-Quran:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, karena kecerdasan dan integritasnya, Nafi’ mendapat kepercayaan penuh untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Beliau sukses menjaga kemurnian riwayat hadits tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun. Maka, para ulama hadits menyebut jalur periwayatan dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar sebagai “Silsilah adz-Dzahab” atau rantai emas karena tingkat keshahihannya yang sempurna.
Ketelitian dalam Periwayatan Hadits
Selain setia, Nafi’ bin Sarjis رحمه الله terkenal karena kejujuran intelektualnya yang sangat tinggi saat menyampaikan hadits. Beliau tidak pernah ragu untuk mengakui jika ada perkara yang tidak beliau ketahui secara pasti dari Ibnu Umar. Oleh karena itu, para muridnya merasa sangat tenang dan percaya sepenuhnya atas setiap riwayat yang keluar dari lisan beliau. Beliau memegang teguh pesan Rasulullah ﷺ tentang pentingnya kejujuran.
Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, setiap kata yang Nafi’ ucapkan menjadi rujukan utama bagi penduduk Madinah dan para musafir ilmu. Beliau memahami bahwa hadits Nabi ﷺ adalah amanah berat yang akan mendapat pertanggungjawaban di akhirat. Ketelitian beliau inilah yang kemudian menjadikan fatwa-fatwa Ibnu Umar tetap terjaga keasliannya hingga saat ini.
Guru bagi Para Imam Besar
Kemudian, pengaruh Nafi’ bin Sarjis رحمه الله semakin meluas ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi secara resmi. Beliau mendidik murid-murid hebat yang kelak menjadi pilar-pilar ilmu Islam, seperti Imam Malik bin Anas dan Ayyub As-Sikhtiyani. Keberadaan beliau sangat vital karena beliau menjadi penyambung lisan para sahabat Nabi ﷺ kepada generasi selanjutnya.
Beliau meyakini bahwa menyebarkan ilmu merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (QS. At-Taubah: 122).
Oleh karena itu, Nafi’ menghabiskan seluruh sisa usianya untuk melayani para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Beliau tidak pernah membeda-bedakan latar belakang muridnya selama mereka memiliki kesungguhan dalam belajar. Kerendahan hatinya membuat majelis beliau selalu penuh dengan keberkahan dan kedamaian bagi siapa pun yang hadir.
Wafatnya Sang Mata Rantai Emas
Pada akhirnya, Nafi’ bin Sarjis رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 117 Hijriah dalam keadaan meninggalkan warisan ilmu yang tak ternilai. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi dunia Islam, khususnya bagi Imam Malik yang sangat mencintainya. Meskipun jasadnya telah tiada, namun namanya tetap harum dalam setiap lembaran kitab hadits yang kita pelajari hari ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa status sosial bukanlah penghalang untuk mencapai kemuliaan. Beliau membuktikan bahwa ketekunan dalam mendampingi ulama serta kejujuran dalam berilmu akan membuahkan derajat yang sangat tinggi. Walaupun zaman terus berganti, sosok Nafi’ bin Sarjis رحمه الله akan selalu tercatat sebagai penjaga amanah sunnah yang luar biasa.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



