Pionir Pembukuan Hadits Nabi ﷺ
Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Syihab Az-Zuhri رحمه الله merupakan tokoh raksasa di kalangan Tabi’in yang memiliki jasa luar biasa bagi umat Islam. Beliau lahir di Madinah pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه. Sejarah mencatat namanya sebagai orang pertama yang secara resmi menghimpun dan membukukan hadits-hadits Rasulullah ﷺ atas perintah khalifah.
Kecerdasan Hafalan yang Menakjubkan
Awalnya, Az-Zuhri رحمه الله tumbuh dengan kecerdasan yang sangat istimewa, terutama dalam kekuatan hafalannya. Beliau mampu menghafal Al-Quran hanya dalam waktu delapan malam saja. Selain itu, beliau sangat tekun mendatangi para sahabat senior seperti Anas bin Malik dan Sahl bin Sa’d رضي الله عنهما untuk menyerap ilmu mereka. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan mulia bagi para pemilik ilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, kekuatan hafalan Az-Zuhri menjadikannya gudang ilmu di kota Madinah. Beliau tidak pernah membiarkan satu pun riwayat terlewatkan tanpa mencatat atau menghafalnya dengan saksama. Maka, para ulama sezamannya mengakui bahwa Az-Zuhri adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah Nabi ﷺ pada masa itu.
Amanah Besar Membukukan Sunnah
Kemudian, titik balik penting dalam sejarah Islam terjadi ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله memerintahkan pembukuan hadits secara massal. Khalifah merasa khawatir akan hilangnya ilmu seiring dengan wafatnya para ulama besar. Oleh sebab itu, beliau memilih Az-Zuhri sebagai pelaksana utama tugas mulia ini karena integritas dan penguasaan haditsnya yang luas.
Az-Zuhri melaksanakan tugas tersebut dengan penuh dedikasi serta ketelitian yang sangat tinggi. Beliau memahami bahwa menjaga hadits adalah bagian dari menjaga agama itu sendiri. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar. Boleh jadi orang yang diberita lebih paham daripada orang yang mendengar langsung (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Berkat kerja keras beliau, ribuan hadits dapat terselamatkan dan tersusun secara sistematis untuk generasi mendatang. Beliau sukses meletakkan batu pertama bagi metodologi penulisan hadits yang kelak disempurnakan oleh para imam besar. Ketulusan beliau dalam menjaga warisan Nabi ﷺ menjadikannya rujukan utama bagi setiap penuntut ilmu di seluruh penjuru negeri.
Kedermawanan dan Akhlak Sang Imam
Selain pakar ilmu, Az-Zuhri رحمه الله juga sangat terkenal karena sifat kedermawanannya yang sangat luar biasa. Beliau tidak pernah membiarkan tamu atau penuntut ilmu kelaparan saat berada di majelisnya. Dan beliau sering kali menghabiskan hartanya untuk menjamu para muridnya demi memuliakan ilmu yang mereka pelajari bersama. Beliau meyakini bahwa berbagi adalah kunci keberkahan hidup.
Allah ﷻ berfirman mengenai kedermawanan hamba-Nya:
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ
Dan apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah (QS. Al-Baqarah: 272).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau tidak hanya terpancar dari kedalaman ilmunya, tetapi juga dari kemuliaan budi pekertinya. Beliau tetap rendah hati meskipun memiliki kedekatan dengan para khalifah dan pejabat negara. Selain itu, beliau selalu mengedepankan persatuan umat di tengah berbagai dinamika politik yang terjadi pada masa Daulah Umayyah.
Wafatnya Sang Penjaga Wahyu
Pada akhirnya, Muhammad bin Syihab Az-Zuhri رحمه الله wafat pada tahun 124 Hijriah di daerah Syam. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan intelektual yang menjadi pondasi bagi seluruh kitab hadits di dunia. Meskipun raga beliau telah tiada, namun setiap kali hadits Nabi ﷺ dibacakan, maka pahala jariyah terus mengalir kepada beliau sebagai pionir pembukuannya.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa kecerdasan harus dibarengi dengan kegigihan dalam menjaga amanah agama. Beliau membuktikan bahwa satu orang yang ikhlas dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian ilmu hingga akhir zaman. Walaupun zaman terus berganti, sosok Az-Zuhri akan selalu tercatat sebagai penjaga cahaya Sunnah yang sangat berjasa.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

