Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله

Sang Imam Ahli Ibadah dan Penyejuk Hati

Muhammad bin Al-Munkadir Al-Qurasyi رحمه الله menempati posisi yang sangat luhur di kalangan tabi’in Madinah. Beliau tumbuh di kota Nabi ﷺ sebagai sosok yang memadukan kedalaman ilmu hadits dengan ketulusan ibadah. Para ulama sezamannya mengenal beliau bukan hanya sebagai pakar hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang sangat lembut hatinya dan mudah menangis karena takut kepada Allah ﷻ.

Kedalaman Ilmu dan Periwayatan Hadits

Awalnya, Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Umar رضي الله عنهم. Beliau memiliki ketelitian yang sangat luar biasa dalam menjaga keaslian riwayat yang beliau sampaikan kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, para kritikus hadits memberikan predikat tsiqah (tepercaya) dan teguh dalam beragama kepada beliau. Allah ﷻ berfirman mengenai kemuliaan orang-orang yang berilmu:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Selanjutnya, keberadaan beliau di Madinah menjadi magnet bagi para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri. Beliau sukses mendidik ulama besar setelahnya, termasuk Imam Malik bin Anas, yang sangat mengagumi kesalehan beliau. Maka, setiap kali beliau berbicara tentang Rasulullah ﷺ, kewibawaan dan rasa cinta terpancar dengan jelas dari wajahnya.

Kesalehan dan Bakti Kepada Orang Tua

Selain cerdas, Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله sangat masyhur karena baktinya yang luar biasa kepada ibundanya. Beliau meyakini bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu jalan pintas menuju surga Allah ﷻ  pernah berkata bahwa bermalam sambil memijat kaki ibunya jauh lebih beliau cintai daripada shalat malam semalam suntuk. Beliau memahami perintah Allah ﷻ dalam Al-Quran:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya (QS. Al-Isra: 23).

Oleh sebab itu, keberkahan hidup senantiasa mengiringi setiap langkah beliau karena doa tulus dari orang tuanya. Beliau juga seringkali membantu kesulitan orang lain dengan harta yang beliau miliki meskipun beliau hidup dalam kesederhanaan. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya di hari kiamat (HR. Muslim).

Kelembutan Hati dan Rasa Takut kepada Allah ﷻ

Kemudian, sisi yang paling menonjol dari Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله adalah kelembutan hatinya saat berinteraksi dengan ayat-ayat Allah ﷻ. Beliau seringkali menangis tersedu-sedu ketika merenungkan keagungan pencipta alam semesta ini. Beliau memahami bahwa rasa takut kepada Allah ﷻ adalah pondasi utama dari sebuah kebijaksanaan dan ilmu yang bermanfaat.

Ketawaduan beliau menjadikannya pribadi yang sangat dekat dengan masyarakat awam di Madinah. Beliau tidak pernah merasa lebih tinggi karena statusnya sebagai ulama besar, namun justru selalu merasa penuh dengan kekurangan. Selain itu, beliau konsisten menjaga shalat berjamaah dan menghidupkan malam-malamnya dengan zikir. Pengabdian spiritual ini memberikan pengaruh besar bagi setiap orang yang duduk di majelisnya untuk semakin mencintai akhirat.

Akhir Hayat yang Terpuji

Pada akhirnya, Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 130 Hijriah. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi penduduk Madinah yang terbiasa melihat keshalehannya. Meskipun jasad beliau telah tiada, namun riwayat-riwayat hadits dan kisah baktinya kepada orang tua tetap abadi sebagai inspirasi umat Islam.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa ilmu yang sejati harus membuahkan akhlak mulia dan kedekatan kepada Allah ﷻ. Beliau membuktikan bahwa bakti kepada orang tua tidaklah menghalangi seseorang untuk mencapai puncak keilmuan. Walaupun zaman terus berganti, sosok Muhammad bin Al-Munkadir رحمه الله akan selalu tercatat sebagai teladan dalam keshalehan dan keilmuan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top