Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani رحمه الله

Arsitek Kodifikasi Fikih Islam

Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani رحمه الله lahir di kota Wasit, Irak, pada tahun 132 Hijriah dan tumbuh besar di Kufah. Beliau merupakan tokoh kunci dalam penyebaran Madzhab Hanafi ke seluruh penjuru dunia. Kejeniusan beliau dalam menuliskan hukum-hukum Islam menjadikannya sebagai bapak kodifikasi fikih yang sistematis dan rapi.

Menimba Ilmu dari Dua Madrasah Besar

Awalnya, Muhammad bin Al-Hasan رحمه الله berguru langsung kepada Imam Abu Hanifah selama beberapa tahun hingga sang guru wafat. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya kepada Abu Yusuf رحمه الله untuk mematangkan pemahaman fikih Irak yang mengedepankan rasionalitas. Allah ﷻ memuji derajat orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, beliau melakukan perjalanan ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas selama lebih dari tiga tahun. Beliau sukses memadukan antara kekuatan nalar fikih Kufah dengan kekayaan hadits penduduk Madinah. Maka, penggabungan dua aliran besar ini menjadikan pemikiran beliau sangat luas, moderat, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan umat Islam.

Pelopor Penulisan Kitab Fikih Sistematis

Kemudian, jasa terbesar Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani رحمه الله terletak pada dedikasinya dalam membukukan persoalan fikih. Beliau menyusun kitab-kitab induk seperti Al-Mabsut, Al-Jami’ al-Kabir, dan As-Siyar al-Kabir yang menjadi rujukan hukum internasional pertama di dunia. Beliau memahami bahwa menjaga ilmu melalui tulisan adalah amanah yang sangat penting bagi keberlangsungan syariat.

Ketaatan beliau terhadap dalil yang shahih selaras dengan perintah Rasulullah ﷺ dalam menjaga kemurnian ajaran. Sebagaimana Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan tulisan (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Oleh sebab itu, karya-karya beliau menjadi jembatan bagi generasi setelahnya untuk memahami hukum Islam secara mendalam dan terperinci. Beliau bukan hanya seorang ahli hukum, tetapi juga seorang sastrawan yang menggunakan bahasa Arab yang sangat fasih dalam tulisan-tulisannya. Ketelitian beliau dalam menyusun setiap bab fikih sukses memudahkan umat dalam mempelajari tata cara ibadah dan muamalah harian.

Guru bagi Para Imam Besar Setelahnya

Selain menulis, Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani رحمه الله merupakan seorang pendidik yang sangat luar biasa bagi generasi berikutnya. Salah satu murid beliau yang paling menonjol adalah Imam Asy-Syafi’i رحمه الله yang sangat mengagumi keluasan ilmunya. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata bahwa beliau tidak pernah bertemu orang yang lebih alim tentang Al-Quran selain Muhammad bin Al-Hasan. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya memiliki pemahaman agama:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (QS. At-Taubah: 122).

Oleh karena itu, pengaruh beliau merambah hingga ke Madzhab Syafi’i karena metode ijtihad yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya. Beliau juga pernah menjabat sebagai hakim di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid meskipun fokus utamanya tetap pada pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, beliau terkenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan menghabiskan harta warisannya yang melimpah hanya untuk membeli buku dan membiayai para penuntut ilmu.

Wafatnya Sang Penulis Syariat

Pada akhirnya, Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani رحمه الله wafat di kota Rayy pada tahun 189 Hijriah. Beliau meninggal dunia pada hari yang sama dengan wafatnya ahli bahasa Arab kenamaan, Al-Kisa’i. Kepergian beliau membawa duka mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu pemikir hukum terbaik yang pernah ada. Meskipun raga beliau telah tiada, namun jutaan orang masih mengambil manfaat dari kitab-kitab yang beliau susun.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa ilmu yang dituliskan akan memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada penulisnya. Beliau membuktikan bahwa penggabungan antara nalar yang sehat dan dalil yang kuat adalah kunci kejayaan fikih Islam. Walaupun zaman terus berganti, sosok Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani akan selalu sejarah kenang sebagai arsitek besar dalam kodifikasi hukum Islam.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top