Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه

Pendahuluan

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang dikenal dengan kecerdasan, ketajaman berpikir, dan kemampuannya dalam diplomasi serta pemerintahan. Ia termasuk sahabat yang lama mendampingi Rasulullah ﷺ dan kemudian memegang peranan penting pada masa Khulafā’ Rāsyidīn hingga awal pemerintahan Bani Umayyah. Sosoknya sering dijadikan contoh kecerdikan yang disertai kecermatan dalam menjaga agama.


Nasab dan Awal Kehidupan

Nama lengkap beliau adalah Al-Mughirah bin Syu‘bah bin Abī ‘Āmir Ats-Tsaqafī رضي الله عنه, berasal dari kabilah Tsaqīf di Thaif. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dikenal cerdas dan piawai berdagang serta berpolitik, yang kelak sangat memengaruhi perannya dalam Islam.

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه masuk Islam setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan sejak itu ia berusaha menebus masa lalunya dengan kesungguhan dalam berkhidmat kepada Islam dan Rasulullah ﷺ.


Kedekatan dengan Rasulullah ﷺ

Setelah masuk Islam, Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه sering mendampingi Nabi ﷺ, termasuk dalam beberapa perjalanan dan peristiwa penting. Ia dikenal sangat memperhatikan adab dan sunnah Nabi ﷺ, terutama dalam perkara ibadah dan muamalah.

Di antara hadits masyhur yang diriwayatkan olehnya adalah tentang tata cara berwudhu Nabi ﷺ dan bolehnya mengusap khuf.

Hadits tentang Mengusap Khuf

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

“Sesungguhnya Nabi ﷺ berwudhu lalu mengusap kedua khuf beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه)

Hadits ini menjadi salah satu landasan utama dalam fiqih tentang bolehnya mengusap khuf, dan diriwayatkan oleh banyak ulama melalui jalur Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه.


Peran pada Masa Khulafā’ Rāsyidīn

Pada masa Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه dipercaya memegang beberapa jabatan penting, di antaranya sebagai gubernur di wilayah Bashrah dan Kufah pada masa Umar dan Utsman رضي الله عنهما.

Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه dikenal sangat selektif dalam memilih pejabat, dan kepercayaan beliau kepada Mughirah menunjukkan kecakapan dan amanah yang dimilikinya, meskipun Umar رضي الله عنه tetap menegakkan prinsip keadilan dan pengawasan ketat terhadap para pejabatnya.


Kecerdasan dan Kehati-hatian

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه dikenal sangat cerdas dalam membaca situasi dan berhati-hati dalam bertindak. Ia sering dijadikan rujukan dalam urusan diplomasi dan penyelesaian masalah sosial-politik yang rumit. Namun kecerdasannya tidak menjadikannya licik dalam agama, justru ia sangat berhati-hati agar tidak melanggar syariat.

Ia dikenal berkata-kata dengan penuh perhitungan, namun tetap menjaga kejujuran dan loyalitas kepada Islam.


Wafatnya Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه wafat pada tahun 50 H di Kufah, pada masa pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan رحمه الله. Ia meninggalkan jejak sebagai sahabat yang cerdas, berpengalaman, dan banyak meriwayatkan hadits Nabi ﷺ yang menjadi rujukan umat hingga hari ini.


Pelajaran dan Teladan

Beberapa pelajaran penting dari kehidupan Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه:

1. Islam Mengangkat Potensi Manusia

Kecerdasan dan pengalaman hidup Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه diarahkan oleh Islam untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan pribadi.

2. Kecerdasan Harus Diiringi Ketakwaan

Beliau menunjukkan bahwa kecerdikan yang tidak diiringi iman dan takwa dapat menjerumuskan, namun jika dibimbing wahyu, akan menjadi kekuatan besar bagi agama.

3. Amanah dalam Jabatan

Kepercayaan para khalifah kepada Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه menjadi bukti bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab dan pengawasan diri.


Penutup

Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه adalah teladan sahabat yang memadukan kecerdasan, pengalaman, dan ketakwaan. Ia bukan hanya perawi hadits Nabi ﷺ, tetapi juga negarawan Muslim yang memahami realitas tanpa mengorbankan prinsip agama. Semoga Allah ﷻ meridhainya dan menjadikan kita mampu meneladani iman, kecermatan, serta amanahnya dalam kehidupan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top