Setiap manusia yang hidup di dunia ini memiliki malaikat pencatat yang senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Segala ucapan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi, tertulis rapi dalam buku laporan yang akan Allah ﷻ periksa. Dalam perjalanan waktu satu tahun, terdapat momentum khusus di mana seluruh catatan tersebut naik ke langit untuk mendapatkan penilaian akhir.
Sya’ban Sebagai Waktu Penutupan
Bulan Sya’ban memiliki posisi strategis dalam kalender hijriah karena berfungsi sebagai waktu pelaporan amal tahunan bagi umat manusia. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar pada masa peralihan ini agar setiap hamba waspada terhadap aktivitas mereka. Penjelasan mengenai hal ini datang melalui lisan sahabat yang mulia, Usamah bin Zaid رضي الله عنهما.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما, beliau berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau ﷺ menjawab: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal ibadah naik kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amalku naik saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani menilai hasan hadits ini dalam Shahih Sunan An-Nasa’i nomor 2357).
Pentingnya Mengakhiri Dengan Kebaikan
Mengapa kita harus bersungguh-sungguh di penghujung laporan tahunan ini? Karena Allah ﷻ melihat kualitas akhir dari sebuah amal perbuatan sebagai penentu utama keberhasilan seorang hamba. Rasulullah ﷺ sering memberikan peringatan bahwa kondisi akhir seseorang sangat menentukan kedudukannya kelak di akhirat.
Seseorang yang menutup catatan amalnya dengan istighfar, puasa, dan sedekah tentu memiliki nilai lebih di hadapan Allah ﷻ. Oleh sebab itu, Nabi ﷺ memilih puasa sebagai perisai terbaik agar beliau berada dalam kondisi paling suci saat laporan terangkat. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak meremehkan hari-hari terakhir di bulan Sya’ban.
Kesadaran Terhadap Pengawasan Allah ﷻ
Seorang mukmin yang cerdas akan selalu merasa bahwa Allah ﷻ senantiasa mengawasi setiap helaan nafasnya. Kesadaran ini menuntut kita untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta melalui taubat sebelum catatan amal tersebut tertutup secara resmi. Allah ﷻ berfirman dalam kitab-Nya yang agung:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…” (At-Taubah: 105).
Langkah Praktis Menuju Penutupan Amal
Kita dapat memulai perbaikan ini dengan memperbanyak shalat sunnah dan membaca Al-Qur’an secara rutin di sela kesibukan. Selain itu, mari kita selesaikan segala urusan dengan sesama manusia agar catatan amal kita tidak terhambat oleh dosa kedhaliman. Kesungguhan dalam beribadah di bulan Sya’ban akan memudahkan kita dalam meraih kesuksesan di bulan Ramadhan nanti.
Kesempatan ini tidak datang berkali-kali, maka pergunakanlah waktu yang tersisa dengan segenap tenaga dan keikhlasan. Jadi, marilah kita persembahkan penutupan catatan amal terbaik tahun ini dengan memperbanyak amal shalih yang tulus.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

