Waktu terus berjalan hingga kita kini berada di penghujung bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan. Perasaan sedih dan haru sering kali menyelimuti hati setiap mukmin saat menyadari bulan suci ini akan segera berlalu. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk memberikan persembahan ibadah terbaik kepada Allah ﷻ.
Rasa Sedih Para Salafus Sholeh
Para generasi awal Islam atau salafus sholeh sangat merasakan beratnya berpisah dengan bulan yang penuh ampunan ini. Mereka bahkan menghabiskan waktu berbulan-bulan setelah Ramadhan hanya untuk memohon agar Allah ﷻ menerima amal ibadah mereka. Allah ﷻ memuji orang-orang yang senantiasa merasa khawatir apakah amalnya sudah cukup sempurna di hadapan-Nya.
Sebagaimana firman Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَّةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (QS. Al-Mu’minun: 60).
Jadi, rasa takut jika amal tidak diterima merupakan tanda keimanan yang sangat mendalam bagi seorang Muslim. Dengan perasaan tersebut, kita akan terhindar dari sifat sombong dan merasa puas dengan sedikitnya ketaatan yang telah kita kerjakan.
Mengejar Ampunan di Garis Finis
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa Allah ﷻ memberikan keistimewaan besar bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh di akhir perjalanan. Rasulullah ﷺ senantiasa mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah amalan sangat bergantung pada bagaimana seseorang menutupnya. Maka dari itu, janganlah kita menjadi orang yang rugi karena mengendurkan semangat saat Ramadhan hampir usai.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Celakalah seseorang yang bulan Ramadhan menemuinya, kemudian bulan tersebut berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan (HR. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Tentu saja, hadits ini menjadi motivasi agar kita terus mengetuk pintu langit melalui zikir dan air mata taubat. Mari kita kencangkan ikat pinggang untuk menghidupkan malam-malam terakhir dengan penuh harapan akan ridha Allah ﷻ.
Harapan untuk Bertemu Kembali
Terakhir, marilah kita tutup bulan suci ini dengan senantiasa berbaik sangka kepada ketetapan Allah ﷻ yang Maha Pemurah. Kita memohon agar setiap rukuk dan sujud yang telah terlaksana menjadi saksi pembela bagi kita di hari kiamat kelak. Selain itu, doa yang tulus agar kita dapat bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan harus terus terucap dari lisan kita.
Rasulullah ﷺ menjanjikan kabar gembira bagi siapa saja yang mengakhiri puasanya dengan penuh keimanan. Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan sabda beliau ﷺ:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulannya, perpisahan ini seharusnya memicu kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Fokuslah pada kualitas istighfar agar kita benar-benar keluar dari madrasah Ramadhan dalam keadaan suci. Akhirnya, semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga hati kita agar tetap istiqamah dalam ketaatan hingga ajal menjemput kita semua.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

