Bulan Sya’ban memberikan kesempatan emas bagi setiap mukmin untuk mensucikan diri dari berbagai noda maksiat. Salah satu fondasi utama dalam menjaga kesucian amal tahunan adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan lintasan hati. Jika seseorang membiarkan matanya liar melihat hal yang terlarang, maka batinnya akan sulit merasakan kemanisan iman saat beribadah.
Hubungan Mata dan Kondisi Batin
Pandangan mata merupakan pintu gerbang utama yang akan menentukan bersih atau kotornya kondisi hati seseorang. Ketika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka setan akan menanamkan benih syahwat yang dapat merusak kekhusyukan shalat dan puasa. Allah ﷻ secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk menundukkan pandangan agar kesucian diri tetap terjaga dengan sempurna.
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30).
Bahaya Pandangan yang Terlepas
Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya bahwa pandangan yang tidak terjaga merupakan salah satu panah beracun dari iblis. Dampak dari satu pandangan haram dapat membekas sangat lama di dalam memori dan mengganggu ketenangan jiwa saat berdzikir. Hal ini menjadi sangat krusial di bulan Sya’ban, karena kita sedang menyiapkan hati agar siap menerima siraman rahmat Ramadhan.
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي
Dari Jarir bin Abdullah رضي الله عنه, beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang pandangan yang tidak sengaja, maka beliau ﷺ memerintahkanku agar aku memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim nomor 2159).
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa Allah ﷻ senantiasa mengawasi setiap lirikan mata dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Meskipun manusia lain tidak mengetahui arah pandangan kita, namun Tuhan semesta alam tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Kesadaran akan kehadiran Allah ﷻ ini merupakan benteng terkuat untuk mencegah seseorang melakukan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi.
Melatih Kebeningan Hati di Bulan Sya’ban
Kita dapat melatih kebeningan hati dengan cara mengurangi interaksi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat di media sosial atau lingkungan sekitar. Selain itu, mari kita perbanyak membaca Al-Qur’an agar imajinasi dan pikiran kita selalu terisi oleh ayat-ayat suci yang menenangkan. Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk melakukan “detoksifikasi” mata dan hati dari racun-racun duniawi yang melalaikan.
Apabila pandangan sudah terjaga, maka secara otomatis hati akan menjadi lebih mudah untuk tunduk dan patuh pada aturan syariat. Ketenangan batin yang lahir dari penjagaan mata akan membuahkan pancaran cahaya kebaikan yang akan menyinari wajah dan perilaku kita. Jadi, gunakanlah sisa hari di bulan Sya’ban ini untuk memperbaiki kualitas penglihatan dan niat kita.
Meraih Kedamaian dengan Menahan Diri
Menahan pandangan memang terasa berat bagi nafsu, namun ia memberikan kelegaan yang luar biasa bagi ruhani manusia yang merindukan surga. Sya’ban mengajarkan kita bahwa kenikmatan sesungguhnya bukan terletak pada apa yang kita lihat, melainkan pada apa yang hati kita rasakan saat dekat dengan Rabb. Maka dari itu, mari kita tutup pintu-pintu kemaksiatan sekarang juga demi menyongsong bulan suci dengan jiwa yang bersih.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

