Menggantungkan Hati Hanya kepada Allah ﷻ

Salah satu sumber kegelisahan terbesar dalam hidup manusia adalah ketika ia menggantungkan harapan dan kebahagiaannya kepada makhluk. Makhluk memiliki sifat lemah, berubah-ubah, dan tidak memiliki kuasa mutlak atas manfaat maupun mudarat. Oleh karena itu, Islam mengajarkan sebuah prinsip agung yang menjadi kunci ketenangan batin, yaitu menggantungkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah ﷻ.


Hakikat Bergantung kepada Allah ﷻ

Menggantungkan hati kepada Allah ﷻ berarti meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa segala urusan di alam semesta ini berada di bawah kendali-Nya. Seseorang yang hatinya terpaut kepada Sang Khalik tidak akan mudah goyah oleh ujian dunia. Ia memahami bahwa manusia hanyalah perantara, sementara takdir dan keputusan akhir ada pada Allah ﷻ.

Allah ﷻ mengingatkan hamba-Nya agar tidak berpaling kepada selain-Nya dalam mencari perlindungan atau pemenuhan kebutuhan. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya? (QS. Az-Zumar: 36)

Ayat ini merupakan tamparan sekaligus penghibur bagi setiap mukmin. Jika Allah ﷻ sudah menjamin kecukupan bagi hamba-Nya, maka tidak ada alasan lagi untuk merasa cemas atau merasa butuh kepada sanjungan dan pertolongan makhluk secara berlebihan.

Bahaya Menggantungkan Hati kepada Makhluk

Ketika seseorang menyandarkan harapannya kepada harta, jabatan, atau sesama manusia, ia sebenarnya sedang membangun rumah di atas pasir. Kekecewaan adalah hasil yang hampir pasti didapatkan. Lebih jauh lagi, ketergantungan hati kepada selain Allah ﷻ dapat menjerumuskan seseorang ke dalam bentuk kesyirikan yang samar.

Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang dampak dari ketergantungan kepada selain Allah ﷻ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Ukaim رضي الله عنه:

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

Barangsiapa yang menggantungkan diri pada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada sesuatu tersebut. (HR. Tirmidzi dan Ahmad, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan dalam Shahihul Jami’)

Hadits ini bermakna bahwa jika kita bergantung pada kepintaran kita, maka Allah ﷻ akan membiarkan kita berusaha sendiri tanpa pertolongan-Nya. Jika kita bergantung pada bantuan atasan, maka Allah ﷻ akan membiarkan urusan kita hanya sampai pada batas kemampuan manusia tersebut. Sungguh merugi orang yang tidak mendapatkan pertolongan khusus dari Allah ﷻ karena hatinya berpaling kepada makhluk.

Ketenangan dalam Penyerahan Diri

Menggantungkan hati kepada Allah ﷻ melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) dan ridha. Seseorang yang hatinya sudah “selesai” dengan Allah ﷻ tidak akan lagi memusingkan apa yang dimiliki orang lain. Ia yakin bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan meleset, dan apa yang bukan jatahnya tidak akan pernah ia dapatkan meski ia mengejarnya sekuat tenaga.

Sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما menceritakan sebuah wasiat agung dari Rasulullah ﷺ:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat itu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

Langkah Nyata Menautkan Hati kepada Allah ﷻ

Untuk mencapai derajat hati yang bergantung hanya kepada Allah ﷻ, ada beberapa hal yang bisa dibiasakan:

  1. Memperbanyak Doa: Selalu meminta petunjuk dan pertolongan Allah ﷻ dalam hal sekecil apa pun.

  2. Mempelajari Sifat Allah ﷻ: Mengenal Allah ﷻ melalui nama-nama-Nya seperti Al-Kafi (Yang Maha Mencukupi) dan Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi Rezeki).

  3. Mengurangi Harapan pada Manusia: Berbuat baiklah kepada manusia karena Allah ﷻ, bukan karena mengharap timbal balik dari mereka.

Kesimpulan

Menggantungkan hati hanya kepada Allah ﷻ adalah bentuk kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya. Seseorang yang berhasil melakukannya tidak akan lagi menjadi budak keinginan atau budak penilaian orang lain. Hidupnya menjadi tenang, usahanya menjadi berkah, dan hatinya senantiasa lapang karena ia tahu bahwa ia sedang bersandar pada Dzat yang Maha Kuat dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top