Bulan Sya’ban menjadi fase krusial bagi setiap Muslim untuk memperkuat daya tahan mental sebelum memasuki medan perjuangan Ramadhan. Seorang mukmin yang cerdas tidak hanya menyiapkan fisik, tetapi juga menata kondisi batin agar tetap tangguh menghadapi berbagai godaan. Tanpa persiapan mental yang matang, ibadah yang kita lakukan berisiko kehilangan ruh dan hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Membangun Optimisme Spiritual
Menata mental bermula dengan menanamkan rasa harap yang besar kepada rahmat Allah ﷻ di tengah segala keterbatasan diri. Rasa optimis ini akan mendorong hamba untuk terus berusaha memperbaiki kualitas amalnya meskipun rintangan duniawi sering kali menghambat. Allah ﷻ senantiasa mengajak hamba-Nya untuk tidak berputus asa dari kasih sayang-Nya yang sangat luas bagi orang-orang yang bertaubat.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53).
Kekuatan Mental dalam Menghadapi Kelalaian
Kekuatan mental seorang mukmin juga terlihat dari kemampuannya untuk bangkit kembali saat terjebak dalam arus kelalaian yang melanda. Rasulullah ﷺ memberikan motivasi agar setiap individu Muslim memiliki ketahanan jiwa yang kokoh dalam memegang teguh prinsip-prinsip ketaatan. Penjelasan mengenai pentingnya kekuatan batin ini terekam dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah. (HR. Muslim nomor 2664).
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk melakukan detoksifikasi pikiran dari segala pengaruh negatif. Seseorang yang mentalnya tertata akan lebih mudah mengendalikan emosi dan menjaga lisan saat menghadapi situasi yang memancing amarah. Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan ini sebagai sarana untuk memperkuat pondasi kesabaran dan keikhlasan dalam beramal.
Langkah Praktis Penguatan Batin
Kita dapat mulai menata mental dengan cara merutinkan tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan ketenangan dan janji-janji kemenangan bagi kaum mukminin. Selain itu, mari kita kurangi interaksi dengan hal-hal yang memicu kecemasan atau perasaan rendah diri terhadap urusan duniawi yang fana. Kesungguhan dalam menjaga kesehatan mental spiritual akan melahirkan pribadi yang tenang dan berwibawa dalam setiap langkah kehidupan.
Apabila mental sudah terlatih dengan baik, maka hambatan lapar dan haus di bulan puasa nanti tidak akan melunturkan semangat beribadah. Kekuatan seorang hamba terletak pada tawakal yang bulat kepada Tuhan semesta alam diiringi dengan usaha yang maksimal sesuai tuntunan syariat. Maka dari itu, gunakanlah bulan Sya’ban ini untuk membentuk mentalitas juara yang hanya mengharap keridaan-Nya semata.
Menyongsong Kemenangan dengan Jiwa Tangguh
Menata mental bukan berarti kita tidak pernah merasa lelah, melainkan kita memiliki alasan kuat untuk terus bertahan di atas ketaatan. Sya’ban mengingatkan kita bahwa keberhasilan di masa depan sangat bergantung pada ketangguhan jiwa yang kita pupuk sejak hari ini. Jadi, marilah kita perkuat batin sekarang juga agar kita meraih kemenangan yang hakiki pada bulan penuh ampunan nanti.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

