Melembutkan Hati dengan Dzikir

Bulan Sya’ban merupakan waktu yang sangat berharga bagi setiap Muslim untuk menata kembali kondisi batinnya. Sering kali kesibukan duniawi yang tidak ada habisnya membuat hati seseorang menjadi keras dan sulit menerima hidayah. Oleh karena itu, kita memerlukan amalan khusus untuk melembutkan batin, dan dzikir adalah jalan terbaik untuk meraih ketenangan tersebut.

Dzikir Sebagai Penenang Jiwa

Seorang mukmin yang senantiasa membasahi lisannya dengan mengingat Allah ﷻ akan merasakan kedamaian yang mendalam di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Dzikir berfungsi sebagai pembersih noda-noda dosa yang menyumbat saluran spiritual manusia sehingga cahaya iman dapat masuk dengan mudah. Allah ﷻ memberikan jaminan yang sangat indah bagi mereka yang selalu mengingat-Nya dalam setiap keadaan.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28).

Keutamaan Dzikir di Sisi Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ memberikan penekanan yang sangat besar mengenai urgensi dzikir sebagai pembeda antara orang yang hidup ruhaniahnya dengan yang mati. Melalui lisan sahabat Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه, beliau ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh hati. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa dzikir, seseorang hanyalah jasad kosong yang kehilangan esensi kemanusiaannya.

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa رضي الله عنه, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda: Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari nomor 6407).

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa Sya’ban adalah bulan di mana amalan-amalan kita sedang diproses untuk naik ke langit. Alangkah indahnya jika saat laporan tersebut terangkat, lisan kita sedang dalam kondisi mengagungkan asma Allah ﷻ. Jadi, mari kita perbanyak bacaan tasbih, tahmid, dan tahlil di setiap waktu senggang yang kita miliki.

Langkah Praktis Merutinkan Dzikir

Kita dapat memulai latihan melembutkan hati ini dengan menjaga istiqamah dalam mengamalkan dzikir pagi dan petang secara rutin. Selain itu, manfaatkanlah waktu-waktu luang saat berjalan atau bekerja untuk terus berkomunikasi secara batin dengan Sang Pencipta. Kebiasaan baik ini akan membentuk karakter yang tenang dan tidak mudah goyah oleh badai ujian duniawi.

Ketika hati sudah lembut dan tenteram karena dzikir, maka menjalankan ibadah puasa Ramadhan nanti akan terasa jauh lebih ringan. Kekuatan dzikir inilah yang akan menjadi motor penggerak bagi kita untuk terus melakukan ketaatan demi ketaatan tanpa rasa lelah. Maka dari itu, marilah kita jadikan bulan Sya’ban ini sebagai momentum untuk kembali menghidupkan hati yang sempat mati.

Kesimpulan Indah dalam Ketaatan

Melembutkan hati dengan dzikir adalah investasi akhirat yang paling menguntungkan bagi setiap individu yang mengharapkan rida-Nya. Sya’ban memberikan kita ruang untuk beralih dari kelalaian menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi dan bermakna. Jadi, mari kita terus berdzikir hingga hati kita benar-benar siap menyambut datangnya bulan penuh ampunan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top