Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

Menjalankan ketaatan secara istiqamah memerlukan kekuatan jiwa yang besar agar hamba tidak mudah menyerah di tengah jalan. Bulan Sya’ban hadir sebagai madrasah bagi setiap Muslim untuk mengasah kesabaran sebelum menghadapi ujian yang lebih besar pada bulan Ramadhan. Tanpa latihan kesabaran yang cukup, seseorang akan merasa berat dalam menunaikan rangkaian ibadah panjang yang Allah ﷻ perintahkan.

Hakikat Sabar dalam Ibadah

Sabar dalam ketaatan berarti memaksa jiwa untuk tetap konsisten melaksanakan perintah Allah ﷻ meskipun rasa malas mulai menyerang batin. Sering kali nafsu mengajak manusia untuk bersantai dan melalaikan kewajiban demi mengejar kesenangan duniawi yang bersifat sementara. Padahal, Allah ﷻ memberikan janji luar biasa berupa pahala tanpa batas bagi orang-orang yang mampu menjaga kesabarannya.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar: 10).

Teladan Rasulullah ﷺ di Bulan Sya’ban

Rasulullah ﷺ memberikan contoh nyata tentang kesabaran dalam beribadah melalui peningkatan frekuensi puasa sunnah selama bulan Sya’ban. Beliau ﷺ tetap teguh berpuasa meskipun bulan ini terjepit di antara dua bulan mulia yang sering membuat orang lain lalai. Penuturan dari sahabat Usamah bin Zaid رضي الله عنهما menjelaskan betapa kuatnya tekad Nabi ﷺ dalam menjaga ketaatannya.

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما, beliau berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau ﷺ menjawab: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal ibadah naik kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amalku naik saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Syaikh Al-Albani menilai hasan hadits ini dalam Shahih Sunan An-Nasa’i nomor 2357).

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa sabar adalah cahaya yang menerangi jalan gelap menuju keridaan Allah ﷻ di dunia. Seseorang yang mampu bersabar dalam menahan lapar di bulan Sya’ban akan lebih mudah menguasai dirinya saat Ramadhan nanti tiba. Jadi, mari kita jadikan setiap detik di bulan ini sebagai sarana untuk memperkuat daya tahan mental spiritual kita.

Strategi Memperkuat Kesabaran

Kita dapat melatih kesabaran dengan cara menambah durasi tilawah Al-Qur’an dan memperlama durasi shalat sunnah secara bertahap setiap harinya. Selain itu, mari kita hindari perdebatan yang tidak perlu agar energi batin kita tetap fokus pada upaya peningkatan kualitas ketakwaan. Kesungguhan dalam berlatih ini akan membuahkan kemanisan iman yang akan terpancar jelas melalui akhlak dan ketenangan batin.

Ketika kesabaran sudah mendarah daging dalam jiwa, maka segala bentuk ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban yang memberatkan pundak. Sebaliknya, ibadah akan berubah menjadi kebutuhan pokok yang memberikan kenikmatan tiada tara bagi hamba yang merindukan pertemuan dengan Rabb-Nya. Maka dari itu, gunakanlah waktu Sya’ban ini sebagai investasi terbaik untuk membangun karakter sabar yang kokoh.

Kemenangan Bagi yang Bersabar

Mengakhiri bulan Sya’ban dengan kemenangan atas nafsu merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan yang sesungguhnya di bulan penuh ampunan. Sya’ban menguji kejujuran kita dalam beragama sebelum Allah ﷻ memberikan penghargaan berupa malam Lailatul Qadar yang sangat mulia itu. Jadi, tetaplah bersabar dalam ketaatan karena pertolongan Allah ﷻ selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang teguh berdiri di atas kebenaran.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top