Sahabat yang Disalami Malaikat
‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid al-Khuzai رضي الله عنه adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sangat istimewa. Beliau masuk Islam pada tahun terjadinya perang Khaibar bersama sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Sejak saat itu, beliau mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, ibadah, dan dakwah.
Keislaman dan Keteguhan Hati
Masuknya ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه ke dalam Islam membawa pengaruh besar bagi kabilahnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan memiliki hati yang lembut. Ketaatannya kepada Allah ﷻ terpancar dari cara beliau memandang kehidupan dunia yang fana ini. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Quran:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Al-Hadid: 20).
Kesadaran akan hakikat dunia ini membuat ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه tumbuh menjadi pribadi yang sangat zuhud dan senantiasa mengharap ridha Allah ﷻ dalam setiap langkahnya.
Kesabaran Menghadapi Ujian Sakit
Salah satu sisi paling luar biasa dari kehidupan ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه adalah kesabarannya yang tiada tara. Beliau menderita penyakit wasir yang sangat parah selama puluhan tahun (sekitar 30 tahun). Namun, beliau tidak pernah mengeluh. Justru dalam rasa sakit itulah, beliau meraih derajat yang tinggi di sisi Allah ﷻ.
Diriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang shalatnya orang yang sakit, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring miring (HR. Bukhari).
Keistimewaan luar biasa yang diberikan Allah ﷻ kepadanya adalah beliau bisa mendengar ucapan salam dari para malaikat karena kesabarannya tersebut. Hal ini menunjukkan betapa Allah ﷻ memuliakan hamba-Nya yang ridha atas ketetapan-Nya.
Kepakaran dalam Ilmu dan Hadits
‘Imran bin Hushain رضي الله عنه dikirim oleh Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه ke Bashrah untuk mengajarkan agama kepada penduduk di sana. Beliau dikenal sebagai seorang ahli hukum (fakih) yang sangat teliti. Beliau sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits karena takut salah dalam menyampaikan lisan Nabi ﷺ.
Salah satu hadits yang beliau riwayatkan dan sangat populer mengenai sifat malu adalah dari Rasulullah ﷺ:
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau senantiasa mengingatkan umat untuk tetap berpegang teguh pada Sunnah Nabi ﷺ dan tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat yang tidak memiliki dasar dari wahyu.
Wafatnya Sang Zahid
‘Imran bin Hushain رضي الله عنه wafat di Bashrah pada tahun 52 Hijriah. Beliau meninggalkan teladan tentang bagaimana seorang mukmin harus bersikap saat diuji dengan kenikmatan maupun penderitaan. Bagi beliau, segala sesuatu yang berasal dari Allah ﷻ adalah sebuah kebaikan.
Sesuai dengan firman-Nya:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



