Sang Imam Darul Hijrah
Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Asbahi رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 93 Hijriah. Beliau merupakan tokoh raksasa dalam sejarah Islam yang mendapatkan julukan Imam Darul Hijrah. Selain sebagai pendiri Mazhab Maliki, beliau juga menjadi rujukan utama dalam ilmu hadits dan fikih yang murni berdasarkan amalan penduduk Madinah.
Menimba Ilmu di Kota Nabi ﷺ
Awalnya, Imam Malik رحمه الله tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau sangat tekun mendatangi majelis-majelis ilmu di Masjid Nabawi untuk menyerap hadits dari para Tabi’in senior. Salah satu guru utamanya adalah Nafi’ bin Sarjis رحمه الله, mantan budak Abdullah bin Umar رضي الله عنهما. Allah ﷻ memuji orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, Imam Malik menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dalam menghafal dan memahami hukum Islam. Beliau tidak pernah terburu-buru dalam memberikan fatwa sebelum mendapatkan pengakuan dari tujuh puluh ulama besar Madinah. Maka, kredibilitas beliau diakui secara luas hingga para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Madinah.
Kitab Al-Muwatta dan Ketelitian Hadits
Kemudian, Imam Malik رحمه الله menyusun kitab mahakaryanya yang sangat terkenal, yaitu Al-Muwatta. Kitab ini merupakan salah satu kitab hadits dan fikih tertua yang menghimpun riwayat-riwayat shahih serta atsar para sahabat. Beliau menerapkan standar yang sangat ketat dalam memilih perawi untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Beliau memahami bahwa menyampaikan hadits adalah amanah yang sangat besar.
Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ
Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Oleh sebab itu, Al-Muwatta menjadi rujukan primer bagi para ulama setelahnya, termasuk Imam Asy-Syafi‘i. Beliau sukses merumuskan metodologi hukum yang menggabungkan antara teks wahyu dengan konsensus ulama Madinah. Ketelitian beliau menjadikan setiap fatwa yang beliau keluarkan memiliki landasan dalil yang sangat kuat dan tepercaya.
Kewibawaan dan Penghormatan Terhadap Hadits
Selain pakar ilmu, Imam Malik رحمه الله sangat terkenal karena kewibawaannya yang luar biasa saat membacakan hadits Nabi ﷺ. Beliau selalu mandi, memakai pakaian terbaik, dan menggunakan wewangian sebelum mulai mengajar hadits di majelisnya. Beliau meyakini bahwa menghormati perkataan Rasulullah ﷺ adalah bagian dari pengagungan terhadap agama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al-Hajj: 32).
Oleh karena itu, suasana majelis beliau selalu tenang dan penuh dengan rasa khidmat yang mendalam. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat jujur dan berani berkata tidak tahu jika memang belum menguasai suatu perkara. Prinsip ketawaduan ini beliau pegang teguh agar tidak menyesatkan umat dengan pendapat yang tanpa dasar. Selain itu, beliau lebih memilih menanggung siksaan fisik daripada harus mengubah fatwa demi kepentingan penguasa.
Akhir Hayat dan Warisan Abadi
Pada akhirnya, Imam Malik bin Anas رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 179 Hijriah dalam usia 84 tahun. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan intelektual yang terus mengalirkan keberkahan bagi jutaan umat Muslim. Meskipun raga beliau telah terkubur di Jannatul Baqi’, namun mazhab dan karya-karyanya tetap hidup serta dipelajari di seluruh dunia.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa ilmu yang benar memerlukan kesabaran dan penghormatan yang tinggi. Beliau membuktikan bahwa keteguhan memegang kebenaran akan membawa kemuliaan meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. Walaupun zaman terus berganti, sosok Imam Malik akan selalu tercatat sebagai penjaga cahaya Sunnah dari Madinah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



