Dalam pandangan manusia, besar atau kecilnya suatu amalan sering kali diukur dari bentuk fisiknya. Sedekah dengan nominal besar, shalat malam yang panjang, atau puasa yang berhari-hari tampak sangat istimewa. Namun, di hadapan Allah ﷻ, ada satu faktor penentu yang jauh lebih penting daripada sekadar jumlah atau rupa amalan, yaitu keikhlasan. Ikhlas adalah ruh dari setiap ibadah, yang mampu mengubah perbuatan sederhana menjadi pahala yang menjulang tinggi.
Hakikat Ikhlas dalam Beramal
Secara bahasa, ikhlas berarti murni atau bersih. Dalam konteks ibadah, ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk mencari ridha Allah ﷻ semata, tanpa mengharap pujian, balasan, atau kedudukan di mata makhluk. Seseorang yang ikhlas tidak akan terpengaruh oleh sanjungan saat berbuat baik, tidak pula ia surut semangatnya ketika dicela.
Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa mengikhlaskan agama hanya bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Tanpa keikhlasan, amalan sebesar gunung pun bisa hancur tak berbekas. Sebaliknya, dengan ikhlas, amalan yang tampak sepele di mata manusia bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Niat sebagai Penentu Bobot Pahala
Niat adalah kemudi dari setiap perbuatan. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan di dalam hatinya. Sahabat Umar bin Khattab رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, para ulama sering menyebutkan bahwa niat yang tulus dapat membesarkan amalan yang kecil. Seorang yang memberikan segelas air kepada orang yang haus dengan hati yang penuh keikhlasan bisa mendapatkan pahala yang lebih besar daripada orang yang menyumbangkan harta melimpah namun didasari oleh rasa riya atau ingin pamer.
Kisah Amalan Kecil yang Membawa ke Surga
Pentingnya keikhlasan terlihat nyata dalam hadits-hadits Nabi ﷺ. Salah satu contoh yang sangat menyentuh adalah kisah seorang wanita yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ
Tatkala ada seekor anjing yang berkeliling di sekitar sumur dan hampir mati karena haus, tiba-tiba seorang wanita pezina dari kaum Bani Israil melihatnya. Maka wanita itu melepas sepatunya dan memberi minum anjing tersebut, lalu dosanya diampuni karena amalannya itu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Wanita tersebut mendapatkan ampunan bukan karena memberi minum anjing adalah ibadah yang sulit, melainkan karena saat itu hatinya sangat tulus dan merasa rendah di hadapan Allah ﷻ, tanpa ada seorang pun manusia yang melihat atau memujinya.
Bahaya Riya: Perusak Amalan Besar
Lawan dari ikhlas adalah riya, yaitu melakukan amal shaleh agar dilihat dan dipuji manusia. Riya disebut sebagai syirik kecil yang sangat ditakuti oleh Rasulullah ﷺ atas umatnya. Beliau ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Mahmud bin Labid رضي الله عنه:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya. (HR. Ahmad, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam As-Silsilah Ash-Shahihah)
Orang yang beramal karena riya hanya akan mendapatkan kelelahan di dunia tanpa membawa pahala sedikit pun di akhirat kelak.
Tips Menjaga Keikhlasan
Menjaga hati agar tetap ikhlas bukanlah perkara mudah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
-
Menyembunyikan Amal: Berusahalah memiliki amal rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah ﷻ.
-
Berdoa: Senantiasa memohon ketetapan hati agar dijauhkan dari sifat riya.
-
Mengingat Kematian: Menyadari bahwa pujian manusia tidak akan membantu kita di dalam kubur.
Kesimpulan
Ikhlas adalah kunci utama yang akan membuka pintu-pintu keberkahan dari setiap amalan kita. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena jika dilakukan dengan ikhlas, ia bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan kita di hari kiamat. Mari kita periksa kembali niat di dalam hati, apakah setiap langkah kita sudah murni karena Allah ﷻ atau masih mengharap sanjungan dunia.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

