Hanzhalah Al-Kātib رضي الله عنه

Sang Penulis Wahyu yang Sangat Wara’

Hanzhalah bin Ar-Rabi’ Al-Usayidi رضي الله عنه merupakan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan istimewa. Beliau menyandang julukan Al-Kātib karena beliau termasuk salah satu dari sedikit sahabat yang bertugas menuliskan wahyu serta surat-surat Nabi ﷺ. Selain memiliki kecerdasan dalam menulis, Hanzhalah juga sangat terkenal karena sifat kejujuran serta ketakutannya terhadap kemunafikan.

Ketakutan Hanzhalah Terhadap Nifaq

Suatu ketika, Hanzhalah رضي الله عنه mengalami gejolak batin yang sangat hebat terkait kondisi imannya. Beliau merasa bahwa kualitas imannya menurun saat sedang berkumpul bersama keluarga jika beliau bandingkan dengan saat berada di dekat Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, beliau menangis dan berseru bahwa Hanzhalah telah menjadi munafik. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya menjaga hati:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Yaitu pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).

Karena merasa gelisah, beliau kemudian bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه dan menceritakan kekhawatirannya. Namun, Abu Bakar ternyata merasakan hal yang sama, sehingga mereka berdua segera menemui Rasulullah ﷺ untuk mencari jawaban.

Penjelasan Nabi ﷺ Tentang Fluktuasi Iman

Setelah mendengar keluhan Hanzhalah, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang sangat menenangkan hati setiap mukmin. Beliau menjelaskan bahwa perubahan kondisi perasaan adalah hal yang manusiawi dan bukan merupakan bentuk kemunafikan. Diriwayatkan dari Hanzhalah Al-Usayidi رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya andaikata kalian terus-menerus dalam kondisi sebagaimana saat berada di sisiku dan dalam dzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di atas tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada waktunya (untuk ibadah) dan ada waktunya (untuk urusan dunia) (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, hadits ini menjadi dalil bahwa seorang Muslim boleh menikmati waktu bersama keluarga selama tidak melalaikan kewajiban. Selain itu, Nabi ﷺ menekankan pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan di dunia.

Peran Hanzhalah dalam Penulisan Wahyu

Sebagai seorang sekretaris Nabi ﷺ, Hanzhalah رضي الله عنه memegang amanah yang sangat besar dalam menjaga kemurnian Al-Quran. Beliau sangat teliti saat mencatat ayat-ayat yang turun agar tidak terjadi kesalahan sedikit pun. Oleh karena itu, beliau selalu mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai urusan surat-menyurat dengan para penguasa di sekitar Jazirah Arab.

Amanah ini merupakan bentuk pengabdian tertinggi karena beliau menjaga wahyu Allah ﷻ. Selanjutnya, beliau juga aktif dalam berbagai peperangan untuk membela kedaulatan Islam. Keberanian beliau di medan perang setara dengan ketelitian beliau dalam menuliskan ilmu.

Wafatnya Sang Penulis Wahyu

Pada akhirnya, Hanzhalah Al-Kātib رضي الله عنه menghabiskan sisa usianya dengan tetap istiqamah di atas jalan Sunnah. Beliau wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه. Meskipun beliau telah tiada, namun kisah tentang kejujuran jiwanya senantiasa menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam.

Beliau mengajarkan kita untuk selalu mengevaluasi diri agar terhindar dari penyakit hati. Selain itu, kehidupan beliau membuktikan bahwa rasa takut kepada Allah ﷻ adalah tanda kesempurnaan iman seseorang.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top