Amrah binti Abdurrahman رحمهما الله

Sang Ahli Fikih dan Penjaga Hadits Aisyah رضي الله عنها

Amrah binti Abdurrahman bin Sa’ad Al-Anshariyah رحمهما الله lahir di Madinah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Beliau merupakan salah satu tokoh wanita paling berpengaruh dalam sejarah Islam dari kalangan Tabi’in. Sejarah mencatat beliau sebagai murid kesayangan sekaligus asisten pribadi Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها. Beliau tumbuh menjadi samudera ilmu yang sangat luas serta menjadi rujukan utama bagi penduduk Madinah dalam masalah fikih dan hadits.

Pendidikan di Bawah Bimbingan Ummul Mukminin

Awalnya, Amrah binti Abdurrahman رحمهما الله tumbuh besar di dalam asuhan langsung Aisyah binti Abi Bakar رضي الله عنهما. Kedekatan ini memberikan beliau kesempatan emas untuk menyerap ilmu agama langsung dari sumbernya yang paling tepercaya. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang menuntut ilmu melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, Amrah sukses menghafal ribuan hadits dan memahami rincian hukum fikih yang Aisyah رضي الله عنها ajarkan. Beliau memiliki daya ingat yang sangat tajam sehingga para ulama pada zamannya sangat mengandalkan riwayat-riwayat darinya. Maka, setiap kali terjadi perbedaan pendapat mengenai hadits Aisyah رضي الله عنها, mereka selalu merujuk kepada penjelasan Amrah. Beliau memahami bahwa menjaga warisan ilmu nabawi merupakan tugas mulia yang harus beliau jalankan dengan penuh ketelitian.

Integritas dan Pengakuan dari Para Ulama

Selain ahli fikih, Amrah binti Abdurrahman رحمهما الله merupakan sosok yang sangat memegang teguh kejujuran dalam beragama. Beliau memegang prinsip bahwa kejujuran adalah jalan satu-satunya menuju keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Beliau senantiasa menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ dengan penuh amanah tanpa ada pengurangan sedikit pun. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, tokoh-tokoh besar seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz sangat menghargai fatwa dan riwayat dari beliau. Beliau sukses menempatkan diri sebagai rujukan ilmiah yang setara dengan para ulama pria terkemuka di Madinah. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati meskipun beliau memiliki otoritas keilmuan yang sangat luas. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya sebagai teladan istimewa bagi kaum wanita Muslimah di seluruh penjuru dunia. Beliau berhasil membuktikan bahwa kecerdasan intelektual yang dibarengi dengan kesucian hati akan membuahkan kewibawaan yang abadi.

Keshalehan dan Kedalaman Ibadah

Kemudian, sisi spiritual Amrah binti Abdurrahman رحمهما الله terpancar nyata melalui ketaatannya yang sangat dalam kepada Allah ﷻ. Beliau meyakini bahwa seorang alim sejati adalah mereka yang paling takut kepada Sang Pencipta dalam setiap keadaan. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).

Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses menginspirasi para penuntut ilmu yang datang ke majelisnya di Madinah. Beliau sukses mendidik keponakannya, Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, menjadi seorang ulama dan hakim besar. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam menjelaskan perkara-perkara agama kepada masyarakat umum. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh fondasi keilmuan Islam, khususnya dalam masalah hukum wanita dan keluarga. Beliau berhasil menunjukkan bahwa ketekunan dalam beribadah akan memperkuat daya ingat dan keberkahan dalam menyebarkan ilmu.

Wafatnya Sang Pijar Ilmu dari Madinah

Pada akhirnya, Amrah binti Abdurrahman رحمهما الله wafat di Madinah pada tahun 103 Hijriah dalam usia yang sangat lanjut. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam karena umat Islam kehilangan salah satu penjaga hadits wanita terbaik. Meskipun raga beliau telah tiada, namun riwayat-riwayatnya tetap hidup dalam kitab-kitab induk hadits seperti Shahih Bukhari dan Muslim.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa wanita memiliki peran strategis dalam menjaga peradaban ilmu Islam. Beliau membuktikan bahwa kedekatan dengan orang shalih harus dimanfaatkan untuk menggali ilmu sebanyak mungkin bagi kemaslahatan umat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Amrah binti Abdurrahman akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi khazanah fikih dan hadits.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top