Pendahuluan
Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله adalah salah satu tokoh penting dalam fase awal Khulafā’ Rāsyidīn yang dikenal sebagai pemimpin pemberani, tegas dalam membela Islam, dan memiliki peran besar dalam menghadapi gelombang besar fitnah serta pemberontakan terhadap kaum muslimin. Namanya tercatat kuat dalam sejarah jihad dan pengorbanan pada masa kekhilafahan ‘Umar bin Al-Khaththāb رضي الله عنه.
Nasab dan Latar Belakang
Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله berasal dari kabilah Tsaqif di Thaif. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat keislaman tinggi dan kesetiaan penuh kepada kepemimpinan kaum muslimin. Meskipun tidak sempat lama bersama Rasulullah ﷺ, ia hidup dan berjuang di masa para sahabat besar, serta terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa besar yang menentukan arah sejarah Islam.
Kondisi Umat Islam di Masanya
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kaum muslimin menghadapi berbagai ujian besar, di antaranya:
-
Munculnya nabi-nabi palsu
-
Pemberontakan kabilah-kabilah Arab
-
Ancaman besar dari kekuatan Persia (Majusi)
Pada masa kekhilafahan ‘Umar bin Al-Khaththāb رضي الله عنه, wilayah Islam mulai meluas, namun tantangan militer semakin berat. Salah satu tantangan terbesar datang dari Persia, yang memobilisasi pasukan besar untuk menghentikan laju dakwah Islam.
Peran Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله dalam Jihad
Panglima Perang Melawan Persia
‘Umar bin Al-Khaththāb رضي الله عنه menunjuk Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله sebagai panglima pasukan kaum muslimin untuk menghadapi pasukan Persia di wilayah Irak. Ini menunjukkan kepercayaan besar khalifah terhadap keberanian dan kepemimpinannya.
Abu ‘Ubayd رحمه الله memimpin pasukan dengan penuh semangat, menanamkan keyakinan bahwa kemenangan datang dari Allah ﷻ, bukan dari jumlah pasukan atau kekuatan senjata.
Allah ﷻ berfirman:
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu; tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah itu? Dan hanya kepada Allah-lah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Āli ‘Imrān: 160)
Perang Jisr dan Syahidnya Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله
Ujian Besar di Medan Jihad
Salah satu pertempuran paling berat yang dihadapi Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله adalah Perang Jisr (Jembatan). Dalam pertempuran ini, pasukan Persia menggunakan taktik dan senjata yang belum pernah dihadapi kaum muslimin sebelumnya, termasuk gajah-gajah perang.
Dengan keberanian luar biasa, Abu ‘Ubayd رحمه الله berada di barisan terdepan. Ia tidak mundur meski situasi sangat genting. Ketika menghadapi gajah perang Persia, ia maju sendiri dan berusaha menghancurkannya, hingga akhirnya ia gugur sebagai syahid.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
“Barang siapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia adalah syahid.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Sa‘id bin Zaid رضي الله عنه, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله)
Makna Syahidnya Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله
Wafatnya Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله bukanlah kekalahan hakiki, melainkan pelajaran besar bagi kaum muslimin:
-
Bahwa jihad membutuhkan kesabaran dan pengorbanan
-
Bahwa kemenangan Islam tidak selalu instan
-
Bahwa darah para syuhada adalah fondasi kejayaan umat
Setelah Perang Jisr, kaum muslimin tidak patah semangat. Justru dari pengalaman pahit itu, lahir strategi yang lebih matang hingga akhirnya Persia runtuh di tangan kaum muslimin pada pertempuran-pertempuran berikutnya.
Keteladanan Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله
Beberapa pelajaran penting dari sosok Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله:
-
Keberanian dalam kebenaran – tidak mundur meski menghadapi bahaya besar
-
Ketaatan kepada pemimpin muslim – berjuang di bawah komando khalifah
-
Keikhlasan dalam jihad – mengorbankan jiwa demi agama Allah ﷻ
-
Optimisme terhadap pertolongan Allah – yakin bahwa hasil akhir ada di tangan Allah ﷻ
Penutup
Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله adalah simbol pengorbanan dan keberanian pada fase awal Khulafā’ Rāsyidīn. Meskipun namanya tidak sepopuler sebagian panglima besar lainnya, jasanya sangat besar dalam membuka jalan kemenangan Islam atas kekuatan adidaya dunia saat itu.
Semoga Allah ﷻ merahmati Abu ‘Ubayd Ats-Tsaqafī رحمه الله, menerima kesyahidannya, dan menjadikan kisah hidupnya sebagai inspirasi bagi kaum muslimin untuk tetap teguh, berani, dan ikhlas dalam membela agama-Nya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



