Pemimpin Tegas dan Orator Ulung
Ziyad bin Abihi رحمه الله merupakan salah satu tokoh administrator dan pemimpin yang sangat berpengaruh pada masa awal kekhalifahan Islam. Beliau lahir di Thaif pada tahun pertama Hijriah dan tumbuh menjadi sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa serta kemampuan retorika yang sangat tajam. Meskipun sejarah mencatat berbagai perdebatan mengenai nasabnya, namun tidak ada yang meragukan kepiawaiannya dalam mengelola pemerintahan dan menjaga stabilitas negara.
Bakat Kepemimpinan Sejak Usia Muda
Awalnya, Ziyad menunjukkan bakat kepemimpinannya saat beliau masih berusia sangat muda di masa kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه. Beliau memiliki kemampuan menulis dan menghitung yang sangat akurat sehingga para gubernur sering menggunakan jasanya sebagai sekretaris. Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه sendiri pernah memuji kefasihan lisan serta ketajaman pikirannya. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya kecakapan dalam memegang amanah:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (padamu) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (QS. Al-Qashash: 26).
Selanjutnya, Ziyad terus mengasah kemampuannya dalam bidang administrasi publik. Beliau memahami bahwa keteraturan dalam pemerintahan merupakan kunci utama untuk menyejahterakan rakyat. Selain itu, beliau selalu menekankan kedisiplinan kepada setiap bawahannya agar tugas-tugas negara dapat berjalan dengan maksimal.
Ketegasan dalam Menjaga Keamanan
Kemudian, nama Ziyad semakin mencuat saat beliau menjabat sebagai gubernur di wilayah Bashrah dan Kufah pada masa Daulah Umayyah. Saat itu, kondisi keamanan di wilayah Irak sedang mengalami gangguan serius akibat maraknya aksi kriminalitas. Oleh sebab itu, Ziyad menyampaikan pidatonya yang sangat masyhur, yaitu Khutbah Al-Batra’, untuk memberikan peringatan keras kepada para pembuat onar.
Beliau menerapkan hukum dengan sangat tegas demi tegaknya keadilan di tengah masyarakat. Tindakan tegas tersebut merujuk pada prinsip bahwa pemimpin harus mencegah kemungkaran demi kemaslahatan umum. Sebagaimana Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman (HR. Muslim).
Selain itu, Ziyad berhasil mengubah wilayah yang sebelumnya rawan konflik menjadi daerah yang sangat aman. Oleh karena itu, para pedagang dan penduduk merasa tenang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut.
Perhatian Terhadap Administrasi Negara
Selanjutnya, Ziyad bin Abihi رحمه الله melakukan reformasi besar dalam sistem administrasi pemerintahan Islam. Beliau menyusun sistem pengarsipan yang rapi serta mengatur pembagian tugas jabatan secara profesional. Beliau meyakini bahwa keteraturan kerja adalah bagian dari tanggung jawab seorang hamba kepada Allah ﷻ.
Ketaatan kepada pemimpin selama dalam koridor kebenaran merupakan hal yang sangat beliau tekankan. Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu (QS. An-Nisa: 59).
Oleh sebab itu, beliau tidak segan memberikan sanksi bagi aparatur negara yang lalai dalam menjalankan kewajibannya. Selain tegas, beliau juga sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dengan membangun infrastruktur yang bermanfaat. Kemudian, beliau sukses menjadikan Irak sebagai pusat kekuatan ekonomi dan politik yang stabil.
Wafatnya Sang Administrator Agung
Akhirnya, Ziyad bin Abihi رحمه الله wafat pada tahun 53 Hijriah akibat sebuah wabah penyakit yang menyerang tangannya. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sistem pemerintahan yang sangat kuat bagi generasi berikutnya. Meskipun beliau terkenal karena ketegasannya yang sangat keras, namun jasa-jasanya dalam menjaga persatuan umat tetap sejarah akui.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa memimpin membutuhkan keberanian serta kecakapan intelektual. Selain itu, beliau membuktikan bahwa ketertiban sosial hanya dapat tercapai jika hukum tegak tanpa pandang bulu. Walaupun jasadnya telah tiada, namun metode administrasinya menjadi rujukan penting dalam perkembangan sejarah pemerintahan Islam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



