Sang Ahli Hikmah dan Sejarah dari Yaman
Wahb bin Munabbih Al-Abnawi رحمه الله lahir di kota Dhimar, dekat Sana’a, pada tahun 34 Hijriah. Beliau merupakan seorang Tabi’in yang sangat termasyhur karena keluasan ilmunya mengenai sejarah bangsa-bangsa terdahulu serta kitab-kitab suci sebelum Islam. Selain memiliki kecerdasan intelektual, beliau juga terkenal sebagai seorang ahli ibadah yang sangat zuhud dan memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa di negeri Yaman.
Keluasan Ilmu dan Pemahaman Sejarah
Awalnya, Wahb bin Munabbih رحمه الله menonjol karena kemampuannya dalam memahami berbagai literatur sejarah dan agama-agama terdahulu (Israiliyat) yang selaras dengan nilai Islam. Beliau berguru kepada para sahabat Nabi ﷺ seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin Abdullah رضي الله عنهم. Allah ﷻ memberikan derajat yang tinggi bagi para pemilik ilmu sebagaimana firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau sukses merangkum berbagai hikmah dari sejarah para nabi untuk memperkuat keimanan umat Islam di zamannya. Beliau memahami bahwa sejarah adalah pelajaran besar bagi manusia agar tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu. Maka, majelis ilmu beliau selalu ramai dengan orang-orang yang ingin mendengarkan untaian nasihat bijak serta pengetahuan tentang hari-hari besar Allah ﷻ.
Keshalehan dan Keteguhan dalam Beribadah
Selain ahli sejarah, Wahb bin Munabbih رحمه الله merupakan sosok zahid yang sangat disiplin dalam menjaga hubungan dengan Tuhannya. Beliau terkenal sebagai orang yang mampu menjaga wudhu shalat Isya hingga waktu shalat Shubuh selama puluhan tahun karena panjangnya ibadah malam beliau. Beliau memegang teguh kejujuran dalam beragama dan menjauhi segala bentuk kemewahan duniawi. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya di hari kiamat (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau senantiasa membantu masyarakat dengan ilmu dan kebijaksanaannya tanpa mengharap imbalan materi sedikit pun. Beliau sukses menanamkan kesadaran pada murid-muridnya bahwa ilmu tanpa amal hanyalah beban bagi pemiliknya. Sifat wara’ beliau sangat kuat sehingga para penguasa di Yaman pun merasa segan untuk memberikan harta yang syubhat kepadanya. Beliau berhasil membuktikan bahwa kekayaan sejati seorang mukmin terletak pada kepuasan hati (qana’ah) dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Nasihat Bijak Mengenai Karakter Muslim
Kemudian, Wahb bin Munabbih رحمه الله sering memberikan nasihat mendalam mengenai bahaya kesombongan dan pentingnya menjaga lisan. Beliau meyakini bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Beliau selalu mengajak umat untuk kembali kepada kemurnian tauhid dan ketaatan yang tulus. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para hamba-Nya yang benar:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau sebagai rujukan umat di Yaman tetap terjaga sepanjang hayatnya. Beliau sukses menjelaskan perkara-perkara agama dengan gaya bahasa yang sangat sederhana namun sarat akan makna filosofis. Beliau juga pernah menjabat sebagai hakim di Sana’a dan menjalankan amanah tersebut dengan penuh keadilan serta kejujuran. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah melahirkan generasi Tabi’in yang memiliki integritas tinggi dalam membela kebenaran Islam. Beliau berhasil menunjukkan bahwa seorang alim sejati adalah mereka yang lisannya basah dengan dzikir dan tangannya ringan membantu sesama.
Wafatnya Sang Penjaga Hikmah
Pada akhirnya, Wahb bin Munabbih رحمه الله wafat di Sana’a pada tahun 110 Hijriah menurut sebagian besar catatan sejarah. Kepergian beliau meninggalkan warisan ilmu sejarah dan hikmah yang sangat kaya bagi generasi-generasi setelahnya. Meskipun jasad beliau telah tiada, namun ajaran-ajarannya tentang kezuhudan tetap hidup dalam hati para pecinta ilmu.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu adalah cahaya yang harus menuntun pada perbaikan akhlak. Beliau membuktikan bahwa memahami masa lalu sangat penting untuk membangun masa depan umat yang lebih baik. Walaupun zaman terus berganti, sosok Wahb bin Munabbih akan selalu sejarah kenang sebagai salah satu mercusuar hikmah dari negeri Yaman.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


