Urwah bin Az-Zubair رحمه الله

Sang Fakih dan Pelopor Sejarah Islam

Urwah bin Az-Zubair bin Al-Awwam رحمه الله menempati kedudukan yang sangat mulia dalam sejarah keilmuan Islam. Beliau lahir pada masa akhir kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه dan tumbuh besar dalam lingkungan yang penuh dengan kemuliaan wahyu. Selain merupakan putra dari sahabat setia Nabi ﷺ, Az-Zubair bin Al-Awwam رضي الله عنه, beliau juga memiliki garis keturunan yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ melalui bibinya, Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها.

Mata Rantai Ilmu dari Ummul Mukminin

Awalnya, Urwah bin Az-Zubair رحمه الله menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu secara intensif kepada Aisyah رضي الله عنها. Beliau sangat tekun mencatat dan menghafal ribuan hadits serta penjelasan tentang kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, beliau menjadi rujukan utama bagi para ulama Madinah dalam urusan fikih dan Sunnah. Allah ﷻ memuji orang-orang yang senantiasa menjaga serta menyebarkan ilmu dalam firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, penguasaan Urwah terhadap ilmu sejarah menjadikannya sebagai orang pertama yang menyusun catatan tentang peperangan Nabi ﷺ (Maghazi). Beliau sukses menggabungkan akurasi hadits dengan narasi sejarah yang rapi. Maka, para sejarawan setelahnya selalu menjadikan catatan Urwah sebagai fondasi utama dalam menulis sirah nabawiyah.

Kesabaran yang Luar Biasa Saat Ujian Melanda

Selain cerdas, Urwah bin Az-Zubair رحمه الله juga terkenal karena kesabarannya yang sangat menakjubkan saat menghadapi musibah besar. Suatu ketika, kaki beliau terserang penyakit yang mengharuskannya untuk diamputasi demi keselamatan nyawanya. Dalam waktu yang bersamaan, salah satu putra tercintanya meninggal dunia karena tertendang oleh kuda di istana khalifah.

Meskipun harus kehilangan kaki dan putra sekaligus, beliau tetap bersyukur serta tidak mengeluh sedikit pun kepada Allah ﷻ. Beliau justru mengucapkan kalimat pujian yang sangat mengharukan karena merasa Allah ﷻ masih menyisakan lebih banyak nikmat daripada yang Dia ambil. Beliau meyakini kebenaran firman Allah ﷻ:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) (QS. Al-Baqarah: 155-156).

Kedermawanan dan Ketaatan Ibadah

Kemudian, Urwah bin Az-Zubair رحمه الله juga dikenal sebagai pemilik kebun kurma yang sangat luas di Madinah. Beliau selalu membuka pintu kebunnya bagi fakir miskin serta penduduk Madinah setiap kali musim panen tiba. Beliau memahami bahwa harta hanyalah sarana untuk meraih keberkahan, sebagaimana Rasulullah ﷺ ajarkan. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, beliau tidak pernah merasa khawatir akan kehilangan hartanya karena rajin berbagi. Selain dermawan, beliau juga merupakan ahli ibadah yang sangat disiplin dalam membaca sepertiga Al-Quran setiap harinya. Rutinitas tersebut beliau jaga dengan sangat istiqamah, bahkan hingga saat beliau sedang menderita sakit sekalipun.

Warisan Ilmu bagi Generasi Setelahnya

Pada akhirnya, Urwah bin Az-Zubair رحمه الله wafat pada tahun 94 Hijriah, di tahun yang sama dengan wafatnya Sa’id bin Al-Musayyab رحمه الله. Beliau meninggalkan warisan berupa murid-murid besar yang kelak menjadi rujukan umat, seperti putranya sendiri Hisyam bin Urwah dan Imam Az-Zuhri. Meskipun raga beliau telah tiada, namun metode ijtihad serta catatan sejarah beliau tetap hidup dan terus dipelajari.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa ilmu yang bermanfaat harus dibarengi dengan kesabaran dan kedermawanan. Beliau membuktikan bahwa kedekatan nasab dengan Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan pengabdian yang tulus terhadap syariat Islam. Walaupun zaman terus berganti, sosok Urwah bin Az-Zubair رحمه الله tetap menjadi teladan bagi setiap Muslim dalam mencintai ilmu dan menghadapi ujian kehidupan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top