Sang Guru Khalifah dan Ahli Fikih
Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud رحمه الله menempati posisi yang sangat mulia dalam jajaran “Tujuh Fakih Madinah”. Beliau tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan keberkahan ilmu, karena beliau merupakan cucu dari sahabat mulia Utbah bin Mas’ud رضي الله عنه. Selain memiliki kedalaman ilmu agama, beliau juga terkenal sebagai seorang penyair yang fasih serta memiliki budi pekerti yang sangat luhur.
Pengabdian Ilmu di Kota Madinah
Awalnya, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah رحمه الله menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Aisyah رضي الله عنهم. Beliau sangat tekun dalam mengumpulkan hadits-hadits Nabi ﷺ serta memahami makna terdalam dari ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu, para ulama Madinah menjadikannya rujukan utama dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang rumit. Allah ﷻ memuji kemuliaan para pemilik ilmu dalam firman-Nya:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar: 9).
Selanjutnya, ketajaman intelektual Ubaidullah membuatnya sangat dipercaya oleh para pemimpin pada masanya. Beliau sukses mendidik para murid yang kelak menjadi tokoh besar, termasuk Umar bin Abdul Aziz رحمه الله sebelum ia menjadi khalifah. Maka, pengaruh pendidikan Ubaidullah sangat terasa dalam karakter kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang terkenal adil dan bijaksana.
Kedekatan dengan Al-Quran dan Sunnah
Selain sebagai pengajar, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah رحمه الله sangat terkenal karena ketaatannya yang mutlak kepada Sunnah. Beliau meyakini bahwa keselamatan hanya dapat tercapai dengan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ secara utuh. Oleh sebab itu, beliau tidak pernah bosan mengingatkan masyarakat agar senantiasa berpegang teguh pada dalil yang shahih. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya; yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya (HR. Malik dalam Al-Muwatta, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah).
Ketulusan beliau dalam menjaga agama ini membuatnya sangat dihormati oleh penduduk Madinah. Selain itu, beliau sering kali memberikan nasihat kepada para gubernur agar tetap berlaku adil kepada rakyat kecil. Beliau memahami bahwa kekuasaan merupakan amanah yang akan Allah ﷻ tanyakan kelak di hari kiamat. Ketegasan beliau dalam membela kebenaran menjadikannya simbol integritas bagi para penuntut ilmu di seluruh penjuru negeri Islam.
Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Fisik
Kemudian, sejarah mencatat bahwa Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah رحمه الله mengalami ujian fisik berupa hilangnya penglihatan di masa tuanya. Namun, kebutaan tersebut tidak pernah melunturkan semangatnya untuk terus mengajar dan menyebarkan ilmu. Beliau justru semakin fokus dalam beribadah serta merenungkan makna-makna Al-Quran. Beliau meyakini bahwa setiap musibah yang menimpa seorang mukmin mengandung pahala yang besar. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10).
Oleh karena itu, meskipun tidak lagi dapat melihat dunia, cahaya ilmu di dalam hatinya tetap bersinar terang menerangi para muridnya. Beliau terus memberikan fatwa-fatwa yang jernih berdasarkan kekuatan hafalannya yang sangat luar biasa. Kesabaran beliau menghadapi keterbatasan fisik ini menjadi teladan yang sangat menginspirasi bagi umat Islam sepanjang zaman.
Akhir Hayat Sang Fakih Agung
Pada akhirnya, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 98 Hijriah. Kepergiannya membawa duka mendalam bagi umat Islam, terutama bagi murid kesayangannya, Umar bin Abdul Aziz. Beliau meninggalkan warisan berupa murid-murid berilmu serta prinsip-prinsip fikih yang sangat kuat. Walaupun jasadnya telah tiada, namun metode ijtihad serta kemuliaan akhlaknya tetap hidup dalam khazanah keislaman.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu mengubah karakter seseorang. Beliau membuktikan bahwa pengabdian tulus kepada syariat akan mengangkat derajat seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah رحمه الله akan selalu tercatat sebagai permata dalam jajaran ulama Tabi‘in.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



