Sang Pembela Hadits dan Amirul Mukminin
Syu’bah bin Al-Hajjaj Al-Ataki رحمه الله merupakan tokoh raksasa dari kalangan Tabi’ut Tabi’in yang lahir di Wasit pada tahun 82 Hijriah. Beliau memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai pemalsuan hadits. Para ulama sezamannya memberikan gelar Amirul Mukminin fil Hadits kepada beliau karena dedikasi serta ketelitiannya yang luar biasa dalam meneliti setiap riwayat.
Pelopor Ilmu Kritik Perawi Hadits
Awalnya, Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله melakukan perjalanan panjang menuju berbagai pusat ilmu guna mengumpulkan hadits Nabi ﷺ. Beliau berguru kepada ratusan ulama besar, termasuk Qatadah bin Di’amah dan Ayyub As-Sikhtiyani. Allah ﷻ menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau sukses menciptakan standar yang sangat ketat dalam menerima sebuah riwayat. Beliau tidak hanya menghafal teks hadits, tetapi juga meneliti kejujuran dan kekuatan ingatan setiap orang yang menyampaikan hadits tersebut. Maka, Syu’bah menjadi orang pertama di Irak yang secara terbuka mengkritik perawi yang lemah atau tidak tepercaya. Ketegasan ini sangat penting agar umat Islam tidak terjerumus pada ajaran yang salah akibat hadits palsu.
Ketelitian dalam Menjaga Sunnah Nabi ﷺ
Selain cerdas, Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله memiliki sifat yang sangat berhati-hati dalam beragama. Beliau sering kali melakukan perjalanan berminggu-minggu hanya untuk memastikan kebenaran satu buah hadits saja. Beliau memahami bahwa menyampaikan perkataan atas nama Rasulullah ﷺ merupakan amanah yang sangat berat. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, beliau tidak pernah mau menerima hadits dari orang yang beliau curigai integritasnya. Beliau sukses mendidik murid-murid hebat yang kelak menjadi imam besar, seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Yahya bin Sa’id Al-Qaththan. Selain ahli ilmu, beliau terkenal sebagai pribadi yang sangat jujur dan menjauhi segala bentuk kemewahan duniawi demi menjaga keikhlasan hati. Beliau membuktikan bahwa penjagaan terhadap agama memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Kedermawanan dan Keshalehan yang Mengagumkan
Kemudian, sisi lain dari Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله adalah sifat kedermawanannya yang luar biasa kepada fakir miskin. Meskipun beliau hidup dalam kesederhanaan, beliau seringkali menghabiskan hartanya untuk membantu para penuntut ilmu yang kekurangan. Beliau meyakini bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah ﷻ serta kepedulian sosialnya. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter hamba-Nya yang bertakwa:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau terpancar bukan hanya dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari kebaikan budi pekertinya. Beliau senantiasa menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan zikir yang panjang setelah seharian mengajar hadits. Beliau sukses menanamkan prinsip bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih bagi pemiliknya. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah menjadikan Bashrah sebagai pusat studi hadits yang paling tepercaya pada masanya.
Wafatnya Sang Penjaga Wahyu
Pada akhirnya, Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله wafat pada tahun 160 Hijriah di kota Bashrah. Kepergian beliau membawa duka yang sangat mendalam bagi seluruh dunia Islam karena hilangnya sang pembela kebenaran Sunnah. Meskipun raga beliau telah tiada, namun metode kritik hadits yang beliau rintis tetap menjadi fondasi utama dalam studi ilmu hadits hingga hari ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kebenaran harus diperjuangkan dengan ketelitian dan kejujuran. Beliau membuktikan bahwa satu orang yang gigih dapat menyelamatkan kemurnian agama dari berbagai fitnah dan kebohongan. Walaupun zaman terus berganti, sosok Syu’bah akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menjaga kemurnian warisan Nabi ﷺ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


