Sang Fakih yang Menjaga Kesucian Diri
Sulaiman bin Yasar رحمه الله merupakan salah satu dari tujuh fakih Madinah yang sangat termasyhur pada masa Tabi‘in. Beliau lahir di Madinah sekitar tahun 34 Hijriah pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Meskipun beliau memiliki latar belakang sebagai seorang mantan budak dari Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits رضي الله عنها, namun Allah ﷻ mengangkat derajatnya melalui ilmu dan ketakwaan.
Di Bawah Naungan Istri Rasulullah ﷺ
Awalnya, Sulaiman bin Yasar رحمه الله tumbuh besar dalam pengawasan langsung Ummul Mukminin Maimunah رضي الله عنها. Karena tinggal di lingkungan rumah tangga Nabi ﷺ, beliau memiliki kesempatan emas untuk menyerap adab serta ilmu syariat dari sumbernya. Selain itu, beliau juga menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Zaid bin Tsabit رضي الله عنهم. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketekunan Sulaiman dalam belajar menjadikannya salah satu ulama paling alim di kota Madinah. Beliau sukses menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari hadits hingga fikih yang sangat mendalam. Maka, penduduk Madinah senantiasa merujuk kepada beliau setiap kali mereka menghadapi persoalan agama yang sulit.
Kisah Keteguhan Menjaga Kehormatan
Selain cerdas, Sulaiman bin Yasar رحمه الله sangat terkenal karena ketampanannya serta kekokohan imannya dalam menjaga kesucian diri. Sejarah mencatat bahwa suatu ketika seorang wanita mencoba menggoda beliau untuk berbuat maksiat saat beliau sedang menempuh perjalanan. Namun, Sulaiman dengan tegas menolak serta segera melarikan diri dari tempat tersebut karena rasa takutnya kepada Allah ﷻ.
Beliau memahami betul bahwa pandangan dan godaan adalah panah setan yang sangat mematikan. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah ﷻ, salah satunya adalah:
وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
Dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik (untuk berzina), lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, Allah ﷻ memberikan karamah kepada beliau berupa kemudahan dalam memahami agama. Kesalehan pribadinya membuat setiap nasihat yang beliau sampaikan meresap kuat ke dalam hati para pendengarnya. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada status sosial, melainkan pada kebersihan jiwa serta kekuatan karakter.
Pengabdian dan Pengaruh dalam Fikih
Kemudian, Sulaiman bin Yasar رحمه الله memegang peranan kunci dalam mengelola urusan pasar di Madinah atas kepercayaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله. Beliau menjalankan tugas tersebut dengan sangat adil serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Selain itu, beliau tetap konsisten mengajar di Masjid Nabawi untuk membekali umat dengan pemahaman agama yang shahih.
Ketaatan beliau terhadap sunnah menjadi pedoman bagi para muridnya agar tidak menyimpang dari ajaran Nabi ﷺ. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya mengikuti jalan orang-orang shalih:
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku (QS. Luqman: 15).
Oleh karena itu, fatwa-fatwa beliau banyak mewarnai mazhab fikih penduduk Madinah hingga saat ini. Beliau sukses mencetak generasi ulama baru yang memegang teguh dalil-dalil Al-Quran dan hadits. Pengabdian tulus beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh pondasi keilmuan Islam pada masa kejayaannya.
Akhir Hayat Sang Penjaga Ilmu
Pada akhirnya, Sulaiman bin Yasar رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 107 Hijriah dalam usia yang cukup lanjut. Beliau meninggal dunia dengan meninggalkan warisan berharga berupa ribuan riwayat hadits serta metode ijtihad yang jernih. Meskipun beliau telah tiada, namun keteladanan beliau dalam menjaga kesucian diri tetap menjadi inspirasi bagi pemuda Muslim sepanjang zaman.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa hidayah Allah ﷻ dapat mengubah status seseorang dari seorang maula (mantan budak) menjadi pemimpin umat. Beliau membuktikan bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu akan berbuah kemuliaan yang abadi. Walaupun zaman terus berganti, sosok Sulaiman bin Yasar رحمه الله akan selalu tercatat sebagai permata dalam sejarah ulama Madinah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



