Sang Ahli Hadits dan Mutiara Tanah Suci
Sufyan bin Uyainah Al-Hilali رحمه الله lahir di Kufah pada tahun 107 Hijriah dan tumbuh menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam. Beliau menetap di Mekkah dan menjadi rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru dunia. Nama beliau bersanding dengan tokoh-tokoh besar lainnya dalam menjaga kemurnian Sunnah Nabi ﷺ pada masa Tabi’ut Tabi’in. Beliau sukses memadukan ketajaman hafalan dengan kedalaman pemahaman syariat sehingga mendapatkan pujian dari para imam madzhab.
Kecerdasan Luar Biasa dan Rihlah Ilmiah
Awalnya, Sufyan bin Uyainah رحمه الله sudah menunjukkan bakat yang luar biasa sejak usia kanak-kanak karena telah menghafal Al-Quran pada usia tujuh tahun. Beliau kemudian mulai menulis hadits pada usia sepuluh tahun dan berguru kepada para tabi’in senior seperti Az-Zuhri dan Amru bin Dinar. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau sukses menguasai ribuan riwayat hadits dengan sanad yang sangat jernih dan tepercaya. Para ulama sezamannya mengakui bahwa tidak ada orang yang lebih mengetahui tafsir dan hadits di Mekkah selain beliau. Maka, majelis ilmu beliau di Masjidil Haram selalu penuh sesak oleh ribuan orang yang ingin menimba ilmu langsung darinya. Beliau memahami bahwa menjaga warisan kenabian merupakan tanggung jawab besar yang memerlukan kejujuran serta ketelitian yang sangat tinggi.
Integritas dan Ketelitian dalam Meriwayatkan Hadits
Selain ahli ilmu, Sufyan bin Uyainah رحمه الله sangat terkenal karena integritasnya dalam menyampaikan setiap sabda Rasulullah ﷺ kepada umat. Beliau memegang teguh kejujuran sebagai pondasi utama dalam berdakwah dan mengajar para penuntut ilmu. Beliau meyakini bahwa setiap kata yang berasal dari Nabi ﷺ harus manusia sampaikan dengan penuh amanah tanpa ada penambahan maupun pengurangan. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, Imam Syafi’i pernah memuji beliau dengan mengatakan bahwa seandainya bukan karena Imam Malik dan Sufyan bin Uyainah, niscaya ilmu di tanah Hijaz akan hilang. Beliau sukses mendidik tokoh-tokoh besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih dalam ketajaman berpikir dan kemuliaan akhlak. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati meskipun beliau memiliki kedudukan yang sangat terhormat di mata masyarakat. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya sebagai figur teladan yang sangat disegani oleh para penguasa maupun rakyat jelata. Beliau berhasil membuktikan bahwa kedalaman ilmu seharusnya melahirkan rasa takut yang lebih besar kepada Allah ﷻ.
Keshalehan dan Hikmah dalam Kehidupan
Kemudian, sisi spiritual Sufyan bin Uyainah رحمه الله tercermin dari ketaatannya yang sangat konsisten dalam menjalankan ibadah haji. Beliau tercatat telah melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali selama masa hidupnya yang panjang. Beliau senantiasa mengingatkan umat bahwa tujuan utama dari menuntut ilmu adalah untuk memperbaiki amal shaleh dan membersihkan hati. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama sejati:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses memberikan pengaruh positif bagi perkembangan dakwah Islam di seluruh penjuru dunia. Beliau sukses menanamkan prinsip bahwa seorang mukmin harus selalu memperhatikan kesucian niat dalam setiap perbuatan yang ia lakukan. Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat sabar dalam mendidik murid-muridnya yang datang dari berbagai latar belakang budaya. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh fondasi ilmu hadits yang menjadi rujukan bagi generasi setelahnya. Beliau berhasil menunjukkan bahwa keberkahan ilmu terletak pada sejauh mana ilmu tersebut mampu mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.
Wafatnya Sang Pijar Ilmu dari Mekkah
Pada akhirnya, Sufyan bin Uyainah رحمه الله wafat di kota Mekkah pada tahun 198 Hijriah dalam usia sembilan puluh satu tahun. Kepergian beliau membawa duka yang sangat mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu penjaga Sunnah terbaik. Meskipun jasad beliau telah dikebumikan di tanah suci, namun mutiara hikmah dan riwayatnya tetap abadi menyinari jalan kebenaran.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa ketulusan dalam belajar akan membuahkan kemuliaan yang tak pernah pudar. Beliau membuktikan bahwa pengabdian yang ikhlas kepada ilmu akan mendatangkan kecintaan di hati seluruh umat manusia. Walaupun zaman terus berganti, sosok Sufyan bin Uyainah akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi Masjidil Haram dan dunia Islam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


