Sang Imam Nahwu dan Penjaga Keagungan Bahasa Al-Quran
Sibawaih رحمه الله memiliki nama asli Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar. Beliau merupakan tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu tata bahasa Arab (Nahwu). Lahir di Persia pada tahun 148 Hijriah, beliau kemudian menetap di Bashrah guna menimba ilmu. Meskipun beliau bukan orang Arab asli, namun Allah ﷻ memberikan keistimewaan kepadanya untuk membukukan kaidah bahasa Arab secara sempurna guna menjaga kemurnian pemahaman agama.
Perjalanan Spiritual dan Keilmuan
Awalnya, Sibawaih رحمه الله datang ke Bashrah untuk mempelajari ilmu hadits dan fikih. Beliau sempat berguru kepada Hammad bin Salamah, namun sebuah peristiwa kecil mengubah arah hidupnya. Saat beliau melakukan kesalahan dalam membaca sebuah kalimat, beliau merasa malu dan bertekad untuk mendalami ilmu bahasa agar tidak mengulangi kesalahan tersebut. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi para penuntut ilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, Sibawaih berguru kepada Khalil bin Ahmad Al-Farahidi dengan penuh ketekunan. Beliau menyerap setiap detail kaidah bahasa, struktur kalimat, hingga intonasi kata dari gurunya tersebut. Kegigihan ini membuahkan hasil luar biasa sehingga beliau sukses melampaui teman-teman seangkatannya. Beliau memahami bahwa memahami bahasa Arab merupakan kunci utama untuk memahami wahyu Allah ﷻ secara tepat.
Kitab Al-Kitab: Fondasi Utama Ilmu Nahwu
Kemudian, jasa terbesar Sibawaih رحمه الله bagi umat Islam terletak pada karya monumentalnya yang berjudul Al-Kitab. Buku ini merupakan kitab Nahwu pertama yang disusun secara sangat sistematis dan mendalam. Para ulama setelahnya bahkan menjuluki kitab tersebut sebagai “Al-Quran-nya Ilmu Nahwu” karena kelengkapannya. Beliau mengumpulkan kaidah-kaidah bahasa berdasarkan Al-Quran, hadits, serta syair-syair Arab yang otentik.
Ketaatan beliau terhadap kebenaran selaras dengan ajaran Rasulullah ﷺ dalam menjaga amanah ilmu. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, Sibawaih sangat teliti dalam menyusun argumentasi bahasanya agar tidak bertentangan dengan dalil agama. Beliau sukses mendefinisikan jabatan kata (i’rab) serta hubungan antar kalimat dengan sangat jernih. Selain itu, beliau terkenal sebagai pribadi yang sangat jujur dan menjauhi sifat sombong meskipun memiliki kecerdasan yang sangat menonjol. Ketulusan hatinya dalam membela bahasa Al-Quran menjadikannya sebagai rujukan abadi bagi setiap penuntut ilmu di seluruh dunia Islam.
Keteladanan Akhlak dan Dedikasi
Selain ahli bahasa, Sibawaih رحمه الله memiliki karakter yang sangat mulia dan menghormati para gurunya. Beliau senantiasa mendahulukan pendapat gurunya, Khalil bin Ahmad, dalam setiap tulisan yang beliau susun. Beliau meyakini bahwa keberkahan ilmu lahir dari adab yang baik terhadap orang yang telah mengajarkannya. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya memiliki pemahaman yang benar:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Quran berbahasa Arab agar kamu memahaminya (QS. Yusuf: 2).
Oleh karena itu, kewibawaan beliau dalam majelis ilmu tidak pernah pudar meskipun beliau wafat di usia yang sangat muda. Beliau sukses menanamkan prinsip bahwa bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk menjaga kesucian aqidah. Kepiawaiannya dalam merangkai kata menjadikannya sebagai teladan bagi para sastrawan dan ulama setelahnya. Beliau juga terkenal sangat pemalu serta memiliki lisan yang lembut sehingga orang lain merasa tenang saat berdiskusi dengannya.
Wafatnya Sang Imam Besar
Pada akhirnya, Sibawaih رحمه الله wafat pada usia yang sangat muda, yaitu sekitar 32 tahun, pada tahun 180 Hijriah di Persia. Kepergian beliau membawa kesedihan mendalam bagi dunia intelektual Islam karena hilangnya permata ilmu bahasa yang tak tergantikan. Meskipun raga beliau telah tiada, namun setiap pelajar Nahwu di seluruh penjuru bumi tetap mengambil manfaat dari karya besarnya.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kekurangan di satu bidang harus menjadi motivasi untuk unggul di bidang lain. Beliau membuktikan bahwa ketulusan dalam membela agama melalui ilmu bahasa akan mendapatkan pahala yang tidak terputus. Walaupun zaman terus berganti, sosok Sibawaih akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menjaga keindahan bahasa Al-Quran.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


