Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله

Pemimpin Para Tabi‘in dari Madinah

Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله menempati posisi puncak dalam jajaran ulama Tabi‘in di Madinah. Beliau lahir pada masa awal kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه, tepatnya dua tahun setelah beliau menjabat. Sosok ini sangat terkenal sebagai Sayyidut Tabi‘in (Pemimpin Tabi‘in) karena keunggulan ilmu, ketakwaan, serta keteguhan hatinya dalam memegang prinsip kebenaran.

Mata Rantai Ilmu dari Para Sahabat Besar

Awalnya, Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله menimba ilmu langsung dari tokoh-tokoh besar di kalangan sahabat Nabi ﷺ. Beliau merupakan menantu dari Abu Hurairah رضي الله عنه, sehingga beliau memiliki akses luas terhadap ribuan hadits. Selain itu, beliau sangat menguasai fatwa-fatwa Umar bin Khattab رضي الله عنه hingga orang-orang menjulukinya sebagai perawi keputusan Umar yang paling terpercaya. Allah ﷻ memuji orang-orang yang mengikuti jejak kebaikan para sahabat dalam firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah (QS. At-Taubah: 100).

Oleh karena itu, Sa‘id tumbuh menjadi ulama yang sangat otoritatif di Madinah. Beliau tidak pernah membiarkan satu pun hadits atau atsar luput dari perhatiannya. Kehausannya akan ilmu mendorongnya untuk melakukan perjalanan panjang demi mencari satu keterangan hadits saja.

Keteguhan Prinsip dan Keadilan

Selanjutnya, Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله terkenal sebagai pribadi yang sangat mandiri dan tidak mau menjilat kepada penguasa. Beliau lebih memilih berdagang minyak untuk menghidupi diri sendiri daripada menerima pemberian dari istana. Ketegasan ini membuat beliau sering mengalami tekanan politik, namun iman beliau tetap kokoh seperti gunung.

Beliau memahami bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketaatan kepada Allah ﷻ, bukan pada kedekatan dengan jabatan. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena pemberian maafnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, beliau tidak segan menolak lamaran putra mahkota khalifah untuk putrinya. Beliau justru menikahkan putrinya dengan muridnya yang miskin namun shalih. Tindakan tersebut membuktikan bahwa beliau lebih mementingkan keselamatan agama anak-anaknya daripada kemewahan dunia yang fana.

Ahli Ibadah dan Penjaga Shalat Berjamaah

Selain pakar dalam bidang hukum (fiqih), Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله adalah seorang abid yang sangat tekun. Beliau memiliki catatan luar biasa dalam hal ibadah, di antaranya adalah tidak pernah tertinggal takbiratul ihram pertama di masjid selama empat puluh tahun. Selain itu, beliau selalu berusaha menempati shaf pertama dalam setiap shalat lima waktu.

Kecintaan beliau terhadap masjid selaras dengan petunjuk Al-Quran mengenai orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah (QS. At-Taubah: 18).

Oleh karena itu, setiap ucapan dan fatwa beliau selalu berwibawa karena lahir dari hati yang bersih dan penuh rasa takut kepada Allah ﷻ. Beliau sukses menjadikan Madinah sebagai pusat ilmu yang menerangi seluruh penjuru dunia Islam pada zamannya.

Akhir Hayat Sang Imam

Pada akhirnya, Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله wafat di Madinah pada tahun 94 Hijriah dalam usia sekitar 80 tahun. Beliau meninggalkan warisan berupa murid-murid besar seperti Az-Zuhri dan Nafi’ yang kemudian melanjutkan dakwah Islam. Meskipun raga beliau telah tiada, namun metode ijtihad serta keteguhan sikap beliau tetap menjadi rujukan utama hingga hari ini.

Seluruh perjalanan hidup beliau mengajarkan kita bahwa ilmu harus beriringan dengan integritas dan pengamalan. Beliau membuktikan bahwa martabat seorang mukmin terjaga melalui kemandirian hidup serta ketaatan mutlak kepada syariat. Walaupun zaman terus berganti, sosok Sa‘id bin Al-Musayyab رحمه الله akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya di masa Tabi‘in.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top