Ramadhan Dengan Niat Terbaik

Hari ini adalah hari pertama Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Kedatangannya senantiasa membawa kegembiraan yang luar biasa bagi setiap jiwa yang beriman. Namun, puasa kita tentu tidak akan mencukupi tanpa kesiapan batin yang matang. Oleh karena itu, kita harus mengawali perjalanan suci ini dengan menata niat yang paling tulus.

Pentingnya Meluruskan Niat

Niat merupakan motor penggerak utama dalam setiap amal ibadah kita. Tanpa niat yang benar, ibadah puasa bisa terjebak menjadi sekadar rutinitas menahan lapar. Allah ﷻ hanya akan menerima amal yang dikerjakan dengan penuh ikhlas demi mengharap wajah-Nya.

Rasulullah ﷺ memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai hal ini. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khaththab رضي الله عنه:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim).

Meraih Ampunan Melalui Keyakinan

Ibadah puasa bukan hanya tentang menahan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita perlu menanamkan keyakinan bahwa janji Allah ﷻ itu benar adanya. Maka dari itu, hadirkanlah rasa harap akan pahala saat kita mulai berpuasa pada hari ini.

Mari kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Kata ihtisaban dalam hadits tersebut bermakna mengharap ridha Allah ﷻ dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, setiap detik rasa lapar yang kita rasakan akan bernilai ampunan yang sangat luas.

Menjaga Kualitas Puasa dari Pembatal Pahala

Selanjutnya, kita harus waspada terhadap hal-hal yang dapat merusak kualitas ibadah kita. Sangat disayangkan jika seseorang lelah berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa di sisi Allah ﷻ. Seringkali, lisan dan perilaku yang tidak terjaga menjadi penyebab gugurnya pahala tersebut.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari usahanya meninggalkan makan dan minumnya (HR. Bukhari).

Oleh sebab itu, mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perbaikan diri secara total. Kita awali dengan niat yang suci agar setiap amal kita berbuah surga dan keberkahan yang melimpah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top