Qatadah bin Di’amah رحمه الله

Sang Hafizh Buta Pemilik Ingatan Emas

Qatadah bin Di’amah As-Sadusi رحمه الله merupakan salah satu tokoh raksasa dari kalangan Tabi’in yang berasal dari Bashrah. Beliau lahir pada tahun 61 Hijriah dalam keadaan tuna netra sejak lahir. Namun, keterbatasan fisik tersebut tidak menghalangi langkah beliau untuk menjadi salah satu ulama paling alim dalam sejarah Islam. Allah ﷻ memberikan ganti berupa ketajaman mata hati serta kekuatan hafalan yang sangat luar biasa bagi dirinya.

Kekuatan Hafalan yang Menakjubkan

Awalnya, Qatadah رحمه الله tumbuh dengan kemampuan menghafal yang membuat para ulama sezamannya terpukau. Beliau mampu menghafal satu lembar tulisan hanya dengan sekali mendengarnya. Oleh karena itu, beliau sukses menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, hadits, bahasa Arab, hingga sejarah bangsa Arab. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang memiliki ilmu melalui firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).

Selanjutnya, kekuatan hafalan Qatadah menjadikan beliau sebagai gudang ilmu di wilayah Irak. Imam Ahmad bin Hanbal bahkan memuji beliau sebagai orang yang paling hafizh di masanya. Beliau tidak pernah membiarkan satu pun riwayat hadits atau penjelasan ayat Al-Quran luput dari ingatannya. Maka, setiap kali beliau mengajar, para penuntut ilmu selalu merasa takjub karena beliau menyampaikan ilmu dengan sangat lancar.

Pakar Tafsir dan Hadits di Bashrah

Kemudian, kedudukan Qatadah bin Di’amah رحمه الله semakin kokoh karena beliau berguru kepada tokoh-tokoh besar seperti Anas bin Malik dan Sa’id bin Al-Musayyab. Beliau menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyerap ilmu dari mereka hingga menjadi rujukan utama dalam bidang tafsir. Beliau memahami bahwa menjaga kemurnian wahyu Allah ﷻ adalah tugas yang sangat mulia bagi seorang mukmin.

Ketaatan beliau dalam meriwayatkan hadits selaras dengan pesan Rasulullah ﷺ untuk selalu jujur. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing ke surga (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, beliau sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits agar tidak terjadi kesalahan makna. Beliau sukses mendidik murid-murid hebat seperti Syu’bah bin Al-Hajjaj yang kelak menjadi pembela sunnah yang tangguh. Selain ahli ilmu, beliau terkenal sebagai pribadi yang sangat zuhud dan tidak pernah mengejar kenikmatan duniawi yang semu. Beliau membuktikan bahwa penglihatan fisik bukanlah syarat utama untuk mendapatkan cahaya hidayah dari Allah ﷻ.

Kontribusi Besar bagi Khazanah Keilmuan

Selain aktif mengajar, Qatadah رحمه الله memberikan pengaruh besar melalui fatwa-fatwanya yang sangat jernih dan mendalam. Beliau memiliki kemampuan unik dalam menghubungkan satu ayat dengan ayat lainnya sehingga pemahaman umat terhadap Al-Quran semakin luas. Allah ﷻ berfirman mengenai pentingnya memiliki pemahaman yang benar:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (QS. At-Taubah: 122).

Oleh karena itu, majelis beliau selalu ramai oleh para pencari ilmu dari berbagai kota besar. Beliau senantiasa memberikan semangat kepada murid-muridnya agar tidak pernah putus asa dalam menuntut ilmu. Keteladanan hidup beliau telah menginspirasi jutaan Muslim bahwa setiap kekurangan fisik pasti menyimpan kelebihan yang luar biasa. Beliau sukses menempatkan namanya di barisan terdepan para ulama yang menjaga warisan kenabian ﷺ dengan penuh integritas.

Wafatnya Sang Mata Air Ilmu

Pada akhirnya, Qatadah bin Di’amah رحمه الله wafat pada tahun 117 Hijriah di daerah Wasit akibat wabah penyakit. Kepergian beliau membawa duka yang mendalam bagi dunia Islam karena hilangnya salah satu pemilik hafalan terbaik di bumi. Meskipun raga beliau telah tiada, namun riwayat-riwayat tafsir dan haditsnya tetap abadi dalam kitab-kitab induk Islam hingga saat ini.

Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa kesungguhan adalah kunci utama dalam meraih ilmu. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mengabdi kepada agama Allah ﷻ. Walaupun zaman terus berganti, sosok Qatadah akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya bagi para penuntut ilmu yang gigih dalam belajar.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top