Pendahuluan
Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah رضي الله عنها adalah pernikahan penuh berkah yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam. Dari pernikahan ini lahir banyak hikmah, baik dalam aspek keluarga, dakwah, maupun kehidupan sosial. Kisah ini menunjukkan bagaimana kejujuran, amanah, dan akhlak mulia Rasulullah ﷺ menjadi sebab beliau mendapatkan pasangan yang terbaik.
Perjalanan Pertemuan dengan Khadijah رضي الله عنها
Sebelum menikah, Rasulullah ﷺ bekerja sebagai pedagang untuk Khadijah رضي الله عنها. Kejujuran dan amanah beliau membuat Khadijah رضي الله عنها terpikat, hingga akhirnya beliau mengutus seorang sahabatnya untuk menyampaikan keinginannya melamar Muhammad ﷺ.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
Ayat ini menjadi penguat bahwa pernikahan adalah sarana yang diberkahi Allah ﷻ, bahkan bagi mereka yang sederhana keadaannya.
Pernikahan Penuh Keberkahan
Rasulullah ﷺ menikahi Khadijah رضي الله عنها pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah رضي الله عنها berusia 40 tahun. Khadijah رضي الله عنها menjadi istri pertama Rasulullah ﷺ dan pernikahan mereka penuh dengan kebahagiaan, kehormatan, serta dukungan yang besar bagi perjuangan dakwah.
Dari pernikahan ini lahir anak-anak Rasulullah ﷺ, termasuk Fatimah رضي الله عنها, yang kelak menjadi ibu dari Hasan dan Husain رضي الله عنهما.
Peran Khadijah رضي الله عنها dalam Dakwah
Khadijah رضي الله عنها adalah sosok yang pertama kali membenarkan kenabian Rasulullah ﷺ. Beliau menjadi pendukung utama dalam kondisi suka dan duka, terutama ketika Rasulullah ﷺ mendapat wahyu pertama di gua Hira.
Dalam hadits sahih disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ … فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضي الله عنها فَقَالَ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي … فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
Dari ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Wahyu pertama yang datang kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar … Beliau pulang dalam keadaan gemetar, lalu masuk menemui Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku.” … Maka Khadijah berkata: “Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” (HR. Bukhari no. 3, Muslim no. 160)
Kata-kata Khadijah رضي الله عنها ini menunjukkan betapa besar dukungan dan kepercayaan beliau kepada suaminya.
Hikmah dari Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah رضي الله عنها
-
Kejujuran mendatangkan keberkahan. Rasulullah ﷺ menikah karena akhlak mulia, bukan karena harta atau kedudukan.
-
Istri shalihah adalah penopang dakwah. Khadijah رضي الله عنها mendukung Rasulullah ﷺ dalam seluruh perjuangannya.
-
Pernikahan sebagai ibadah. Rumah tangga Rasulullah ﷺ dan Khadijah رضي الله عنها menjadi contoh bagaimana pernikahan adalah sarana menggapai ridha Allah ﷻ.
Penutup
Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah رضي الله عنها adalah salah satu pernikahan terindah dalam sejarah Islam. Pernikahan ini penuh cinta, keberkahan, dan menjadi teladan abadi tentang arti keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|