Ahli Fikih yang Wara’ dan Pakar Takwil Mimpi
Muhammad bin Sirin رحمه الله lahir di kota Bashrah pada akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Beliau merupakan putra dari Sirin, seorang mantan budak sahabat mulia Anas bin Malik رضي الله عنه. Nama beliau abadi dalam sejarah Islam bukan hanya karena ketajamannya dalam menafsirkan mimpi, melainkan juga karena keshalehannya yang sangat luar biasa dan ketelitiannya dalam menjaga kemurnian hadits Nabi ﷺ.
Kedalaman Ilmu dan Ketelitian Periwayatan
Awalnya, Muhammad bin Sirin رحمه الله menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, dan Abu Hurairah رضي الله عنهم. Beliau sangat terkenal sebagai pribadi yang sangat berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan riwayat hadits. Oleh sebab itu, para ulama memberikan kepercayaan penuh kepadanya karena integritasnya yang tanpa celah. Allah ﷻ menjanjikan derajat tinggi bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, beliau sukses menjadi pilar ilmu di Bashrah berdampingan dengan Hasan Al-Bashri. Beliau selalu menekankan kepada para muridnya agar senantiasa meneliti dari siapa mereka mengambil ilmu agama. Maka, setiap kata yang beliau ucapkan selalu berlandaskan dalil yang kuat serta pengamalan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sifat Wara’ dan Integritas dalam Perniagaan
Selain ahli ilmu, Muhammad bin Sirin رحمه الله adalah seorang pedagang kain yang sangat menjunjung tinggi kejujuran. Beliau memiliki sifat wara’ (sangat berhati-hati terhadap perkara syubhat) yang sangat mengagumkan masyarakat pada zamannya. Beliau pernah membuang minyak dalam jumlah besar hanya karena menemukan bangkai tikus di salah satu wadahnya demi menjaga kualitas barang bagi pembeli. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Pedagang yang jujur lagi tepercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Oleh karena itu, keberkahan hidup beliau rasakan meskipun beliau harus menghadapi ujian finansial yang berat. Beliau bahkan sempat mendekam di penjara karena menanggung hutang demi menjaga prinsip kejujuran dalam bisnisnya. Beliau membuktikan bahwa harta duniawi tidak boleh merusak kemurnian iman seorang hamba Allah ﷻ. Sifat amanah tersebut menjadikannya teladan bagi para pedagang Muslim agar selalu mengutamakan ridha Allah ﷻ di atas keuntungan semata.
Keistimewaan dalam Menafsirkan Mimpi
Kemudian, keahlian yang paling melekat pada sosok Muhammad bin Sirin رحمه الله adalah kemampuannya menafsirkan mimpi. Beliau seringkali memberikan takwil yang sangat akurat serta mengandung hikmah yang mendalam bagi mereka yang bertanya. Namun, beliau tetap rendah hati dan selalu menyandarkan pengetahuannya tersebut kepada taufiq dari Allah ﷻ. Beliau memahami bahwa mimpi yang baik adalah bagian dari kenabian. Sebagaimana Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
Mimpi yang baik dari seorang laki-laki yang shalih adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, banyak masyarakat dari berbagai penjuru datang menemui beliau hanya untuk menanyakan arti mimpi mereka. Beliau sukses memberikan arahan-arahan spiritual melalui penafsiran yang beliau berikan kepada setiap penanya. Meskipun pakar dalam hal ini, beliau tidak pernah meninggalkan kesibukan utamanya dalam mengajarkan fikih dan hadits di Masjid Bashrah. Beliau berhasil memadukan antara ilmu lahiriah dan bashirah batiniah dengan sangat harmonis.
Wafatnya Sang Imam yang Mulia
Pada akhirnya, Muhammad bin Sirin رحمه الله wafat di Bashrah pada tahun 110 Hijriah, hanya berselang seratus hari setelah wafatnya Hasan Al-Bashri. Kepergian beliau meninggalkan lubang besar dalam khazanah keilmuan Islam, khususnya di wilayah Irak. Walaupun raga beliau telah tiada, namun warisan keteladanan serta karya-karya tafsir mimpinya tetap menjadi rujukan umat Islam hingga hari ini.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran bahwa ilmu harus membuahkan sifat wara’ dan kejujuran dalam beramal. Beliau membuktikan bahwa seorang anak mantan budak mampu mencapai puncak kemuliaan karena kekuatan ilmu dan ketaqwaan. Walaupun zaman terus berganti, sosok Muhammad bin Sirin akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi jalan bagi para pencari kebenaran.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



