Sang Ahli Ibadah dan Perawi Terpercaya dari Bashrah
Mu’adzah binti Abdullah al-Adawiyyah رحمهما الله lahir di tengah masa keemasan ilmu pengetahuan di kota Bashrah. Beliau merupakan salah satu tokoh wanita paling menonjol dari kalangan Tabi’in yang memadukan kedalaman ilmu dengan keshalehan yang luar biasa. Sejarah mengenal beliau sebagai istri dari pejuang Islam yang mulia, Shilah bin Asyam. Beliau sukses menempatkan dirinya sebagai rujukan utama dalam periwayatan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها karena kecerdasan serta ketelitiannya.
Menimba Ilmu dari Cahaya Kenabian
Awalnya, Mu’adzah al-Adawiyyah رحمهما الله menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berguru kepada para sahabat Nabi ﷺ. Beliau mendapatkan kesempatan emas untuk menimba ilmu langsung dari Aisyah binti Abi Bakar dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهما. Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu melalui firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Selanjutnya, ketekunan beliau dalam belajar sukses menjadikannya sebagai samudera ilmu di wilayah Irak. Beliau memiliki pemahaman yang sangat mendalam mengenai hukum-hukum kewanitaan serta rahasia ibadah yang lurus. Maka, para ulama besar seperti Qatadah dan Hammad bin Zaid senantiasa merujuk kepada riwayat-riwayat beliau guna memastikan keshahihan sebuah perkara. Beliau memahami bahwa menjaga amanah ilmu merupakan bentuk ketaatan tertinggi bagi seorang mukminah kepada Sang Pencipta.
Keshalehan dan Ketabahan Menghadapi Ujian
Selain ahli ilmu, Mu’adzah al-Adawiyyah رحمهما الله terkenal karena kezuhudan serta ketabahannya yang luar biasa dalam beragama. Beliau tetap teguh memegang prinsip iman saat suami dan putranya gugur sebagai syuhada di medan jihad. Beliau senantiasa memegang teguh kejujuran dalam setiap keadaan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Sebagaimana Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عن مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنْيا، نَفَّسَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ
Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya di hari kiamat (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, beliau sukses menjadi inspirasi bagi kaum wanita dalam hal kesabaran dan kemandirian spiritual. Beliau lebih memilih menghabiskan malam-malamnya untuk bersujud daripada tenggelam dalam kesedihan duniawi yang melalaikan. Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat rendah hati meskipun beliau memiliki kedudukan intelektual yang sangat tinggi. Sifat wara’ yang beliau miliki menjadikannya sebagai teladan istimewa yang sangat disegani oleh masyarakat Bashrah. Beliau berhasil membuktikan bahwa kekuatan doa dan ibadah adalah senjata utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi badai kehidupan.
Kedalaman Ibadah dan Penjaga Sunnah
Kemudian, sisi ketajaman mata batin Mu’adzah al-Adawiyyah رحمهما الله memancar melalui konsistensinya dalam menjalankan Sunnah Nabi ﷺ. Beliau meyakini bahwa setiap amalan haruslah berlandaskan pada rasa takut yang murni hanya kepada Allah ﷻ semata. Allah ﷻ berfirman mengenai karakter para ulama yang sebenar-benarnya dalam Al-Quran:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (QS. Fatir: 28).
Oleh karena itu, pancaran keshalehan beliau sukses menuntun banyak orang untuk kembali kepada jalan ketaatan yang sempurna. Beliau sukses menanamkan nilai-nilai keikhlasan dalam setiap hadits yang beliau sampaikan kepada para penuntut ilmu. Beliau juga terkenal sering mengingatkan murid-muridnya agar tidak menyia-nyiakan waktu malam tanpa diisi dengan zikir dan doa. Pengabdian beliau selama puluhan tahun telah memperkokoh fondasi keimanan umat Islam di tanah Irak. Beliau berhasil menunjukkan bahwa kemuliaan seorang wanita Muslimah terletak pada kedalaman ilmunya serta ketulusan amalnya.
Wafatnya Sang Mutiara Ilmu dari Bashrah
Pada akhirnya, Mu’adzah al-Adawiyyah رحمهما الله wafat di Bashrah pada tahun 83 Hijriah dalam keadaan husnul khatimah. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh dunia Islam karena hilangnya salah satu penjaga hadits terbaik. Meskipun jasad beliau telah dikebumikan, namun warisan riwayat dan hikmahnya tetap abadi menyinari jalan kebenaran.
Seluruh perjalanan hidup beliau memberikan pelajaran berharga bahwa wanita memiliki peran yang sangat besar dalam pelestarian syariat Islam. Beliau membuktikan bahwa ketaqwaan sejati akan melahirkan ketenangan jiwa dalam menghadapi segala bentuk takdir Allah ﷻ. Walaupun zaman terus berganti, sosok Mu’adzah al-Adawiyyah akan selalu sejarah kenang sebagai cahaya yang menerangi khazanah keilmuan Islam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|



