Menjaga Lisan di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum untuk menahan rasa lapar dan dahaga bagi setiap Muslim. Lebih dari itu, ibadah ini melatih kita untuk mampu mengendalikan seluruh anggota tubuh, terutama lisan. Maka dari itu, menjaga tutur kata menjadi kunci utama agar pahala puasa kita tetap utuh dan tidak terbuang sia-sia.

Bahaya Lisan yang Tidak Terkendali

Sering kali kita tidak menyadari bahwa ucapan yang buruk dapat merusak kualitas ibadah secara drastis. Lisan yang terbiasa dengan ghibah, dusta, atau caci maki akan menghapus keberkahan dari rasa lapar yang kita rasakan. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bagi orang yang tidak mampu mengontrol perkataannya.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari usahanya meninggalkan makan dan minumnya (HR. Bukhari).

Tentu saja, peringatan tersebut menunjukkan bahwa Allah ﷻ menginginkan perubahan akhlak dari setiap hamba-Nya yang berpuasa. Dengan demikian, kita harus lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan sesama, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Strategi Menghadapi Provokasi

Selanjutnya, tantangan menjaga lisan sering kali muncul saat kita berhadapan dengan orang yang memancing amarah. Dalam kondisi perut yang kosong, emosi cenderung lebih mudah tersulut oleh lingkungan sekitar. Namun, Islam memberikan tuntunan yang sangat indah untuk menghadapi situasi yang penuh dengan provokasi tersebut.

Berdasarkan riwayat sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفَثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Apabila pada hari salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada orang lain yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia katakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, perkataan Inni sha-im (aku sedang puasa) berfungsi sebagai pengingat bagi diri sendiri sekaligus peredam konflik bagi orang lain. Dengan cara ini, kita tetap bisa menjaga kemuliaan ibadah sekaligus melatih kesabaran jiwa yang lebih dalam.

Meraih Keselamatan Lewat Diam

Sebenarnya, diam merupakan pilihan terbaik ketika kita tidak mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung kebaikan. Pilihan tersebut akan menjauhkan kita dari berbagai kesalahan yang mungkin timbul akibat lidah yang tidak bertulang. Allah ﷻ senantiasa mengawasi setiap kata yang meluncur dari mulut hamba-Nya tanpa terkecuali.

Allah ﷻ mengingatkan kita semua melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qaf: 18).

Kesimpulannya, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah untuk memperbaiki cara berkomunikasi kita. Fokuslah pada dzikir dan tilawah Al-Qur’an agar lisan kita senantiasa basah dengan kalimat-kalimat yang dicintai Allah ﷻ. Akhirnya, semoga puasa kita melahirkan pribadi yang santun dan terjaga dari segala keburukan lisan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top