Menanti Panggilan Ramadhan

Waktu terus bergulir hingga kita berada pada penghujung Sya’ban yang penuh dengan harapan. Setiap mukmin kini tengah berdebar menanti datangnya seruan agung untuk melaksanakan kewajiban puasa. Suasana penantian ini harus kita isi dengan kerinduan yang tulus serta kesiapan batin yang matang agar rahmat Allah ﷻ tidak terlewati begitu saja.

Kerinduan Berjumpa Bulan Mulia

Menanti Ramadhan bukan sekadar menunggu pergantian kalender, melainkan menyiapkan ruang di dalam hati untuk limpahan hidayah. Para salafus shalih dahulu bahkan sudah memohon kepada Allah ﷻ sejak berbulan-bulan sebelumnya agar mereka sampai pada bulan suci ini. Kerinduan tersebut lahir karena mereka memahami betapa besarnya ampunan yang Allah ﷻ sediakan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Allah ﷻ secara jelas menunjukkan bahwa tujuan utama dari setiap panggilan ibadah di bulan ini adalah agar kita meraih derajat taqwa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah: 183).

Bergembira Atas Karunia Allah ﷻ

Seorang mukmin yang sejati akan merasakan kegembiraan yang luar biasa saat tanda-tanda kehadiran Ramadhan mulai tampak nyata. Kegembiraan ini merupakan wujud syukur atas kesempatan emas untuk menghapus dosa-dosa masa lalu yang membebani pundak kita. Rasulullah ﷺ senantiasa memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya mengenai pintu-pintu surga yang terbuka lebar saat Ramadhan tiba.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. (HR. Bukhari nomor 1899 dan Muslim nomor 1079).

Selanjutnya, kita perlu menyelaraskan detak jantung kita dengan semangat pengabdian yang murni hanya kepada Rabb semesta alam. Penantian ini memberikan waktu bagi kita untuk memperbaharui niat agar puasa kita nanti tidak hanya berujung pada rasa lapar dan haus. Maka dari itu, marilah kita perbanyak doa agar Allah ﷻ memberikan kekuatan fisik dan keteguhan iman selama sebulan penuh.

Menyiapkan Diri Secara Totalitas

Kita dapat mengisi detik-detik terakhir ini dengan memohon maaf kepada sesama manusia atas segala khilaf yang telah terjadi. Selain itu, mari kita pastikan rumah dan tempat ibadah kita sudah siap untuk menyambut suasana penuh keberkahan tersebut. Persiapan lahiriah yang baik akan mendukung ketenangan batin saat kita mulai menjalankan rangkaian ibadah malam yang panjang.

Apabila panggilan itu telah datang, maka sambutlah dengan tekad bulat untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Kekuatan doa yang kita langitkan di penghujung Sya’ban ini akan menjadi motor penggerak bagi ketaatan kita di bulan puasa nanti. Jadi, marilah kita bersiap dengan penuh rasa harap kepada Ilahi agar kita keluar dari Ramadhan sebagai pemenang yang sejati.

Harapan pada Akhir Penantian

Ramadhan adalah bulan di mana setiap desah nafas seorang hamba yang beriman memiliki nilai kemuliaan di hadapan Allah ﷻ. Sya’ban telah mengajarkan kita banyak hal tentang disiplin dan keteguhan hati dalam mempersiapkan diri menuju medan perjuangan. Semoga Allah ﷻ memudahkan langkah kaki kita untuk memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan suci dan meraih rida-Nya secara sempurna.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top