Menanam Benih Ketaatan

Bulan Sya’ban memiliki posisi yang sangat krusial dalam siklus ibadah tahunan seorang mukmin. Para ulama sering kali mengibaratkan bulan ini sebagai masa krusial untuk mengairi dan merawat tanaman ketaatan. Tanpa adanya usaha untuk menanam benih amal sejak dini, mustahil seseorang bisa memanen keberkahan yang melimpah saat bulan Ramadhan tiba.

Filosofi Menanam di Bulan Sya’ban

Analogi yang paling masyhur mengenai keterkaitan antar bulan mulia ini berasal dari perkataan Abu Bakar Al-Balkhi. Beliau menjelaskan bahwa bulan Rajab adalah waktu untuk menanam benih, sementara Sya’ban adalah waktu untuk menyiramnya. Maka dari itu, barangsiapa yang tidak menyiram tanamannya pada bulan ini, ia akan mendapati hasil yang kering dan gersang di masa depan.

Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan dengan memperbanyak puasa sebagai bentuk perawatan rutin terhadap iman beliau. Kesungguhan beliau ﷺ dalam beramal terekam dengan indah dalam penuturan ibunda Aisyah رضي الله عنها.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Selain itu, aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari nomor 1969 dan Muslim nomor 1156).

Konsistensi Amal Sebagai Pupuk Jiwa

Keberhasilan seorang hamba dalam meraih kemanisan iman sangat bergantung pada kesinambungan amal yang ia lakukan. Allah ﷻ mencintai perbuatan baik yang hamba-Nya kerjakan secara rutin meskipun jumlahnya mungkin terlihat sedikit di mata manusia. Oleh karena itu, kita harus mulai membiasakan diri dengan shalat sunnah dan sedekah agar jiwa terbiasa dengan beban ibadah.

Allah ﷻ berfirman dalam kitab-Nya mengenai pentingnya bersegera dalam melakukan ketaatan:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali ‘Imran: 133).

Semangat untuk menanam kebaikan ini harus kita miliki agar catatan amal tahunan kita berakhir dengan catatan yang produktif. Sya’ban adalah saat yang tepat untuk memaksa nafsu agar tunduk pada keinginan ruhani yang luhur. Jadi, jangan biarkan waktu penyiraman amal ini berlalu tanpa ada satu pun benih yang tumbuh subur di dalam hati kita.

Memanen Keberkahan di Bulan Ramadhan

Seorang petani yang rajin merawat sawahnya tentu akan merasa bahagia saat masa panen telah tiba. Begitu pula dengan seorang Muslim yang sudah bersusah payah menanam benih ketaatan selama bulan Sya’ban ini. Ia akan memasuki bulan Ramadhan dengan kondisi jiwa yang segar dan siap menjalankan puasa dengan penuh kenikmatan.

Selanjutnya, mari kita evaluasi kembali jenis benih apa yang sedang kita tanam dalam keseharian kita saat ini. Jika kita menanam kebaikan, maka kebaikan pulalah yang akan kita tuai di hari pembalasan kelak. Kesungguhan dalam memanfaatkan waktu Sya’ban adalah kunci utama menuju kemenangan hakiki yang kita cita-citakan bersama.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top