Membersihkan Hati dari Iri, Dengki, dan Riya

Bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat bagi setiap Muslim untuk melakukan pembersihan jiwa. Selain menahan lapar, kita juga harus berjuang keras membuang berbagai penyakit hati yang merusak iman. Oleh karena itu, mari kita fokus memperbaiki kondisi batin agar ibadah puasa membuahkan ketenangan yang sejati.

Bahaya Penyakit Iri dan Dengki

Iri hati atau dengki merupakan perasaan tidak suka ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ. Sifat buruk ini sangat berbahaya karena dapat memakan amal kebaikan seseorang dengan sangat cepat. Maka dari itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan agar kita menjauhi perilaku yang merusak persaudaraan ini.

Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membelakangi, serta jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika hati bersih dari rasa dengki, kita akan merasa lebih lapang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, orang yang memelihara dendam dan iri hanya akan menyiksa dirinya sendiri dengan kegelisahan yang tidak berujung.

Waspada Terhadap Bahaya Riya

Selanjutnya, kita harus sangat berhati-hati terhadap penyakit riya atau pamer dalam beribadah. Riya merupakan syirik kecil yang sering kali menyusup ke dalam hati tanpa kita sadari sama sekali. Tentu saja, amalan yang tercampur dengan keinginan untuk dipuji manusia tidak akan memiliki nilai di sisi Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ merasa sangat khawatir jika sifat ini menimpa umatnya yang rajin beribadah. Sahabat Mahmud bin Labid رضي الله عنه meriwayatkan sabda beliau ﷺ:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ

Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).

Oleh sebab itu, mari kita terus memurnikan niat hanya demi mengharap ridha Allah ﷻ semata. Fokuslah pada kualitas ibadah secara tersembunyi agar keikhlasan kita tetap terjaga dari pandangan manusia.

Cara Meraih Hati yang Bersih

Langkah utama untuk membersihkan hati adalah dengan senantiasa mengingat Allah ﷻ melalui dzikir dan doa yang tulus. Kita perlu menyadari bahwa setiap nikmat yang ada pada orang lain merupakan pembagian adil dari Sang Khalik. Selain itu, mengakui kelemahan diri di hadapan-Nya akan menjauhkan kita dari sifat sombong dan riya.

Allah ﷻ memuji orang-orang yang datang menghadap-Nya dengan hati yang selamat dari penyakit di dalam Al-Qur’an:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Yaitu pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).

Akhirnya, marilah kita jadikan sisa hari di bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk mencuci hati kita. Hilangkan rasa benci kepada sesama dan ganti dengan doa kebaikan untuk mereka semua. Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita hati yang tenang, bersih, dan senantiasa merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top