Membangun Istiqamah

Setiap Muslim tentu menyadari bahwa mempertahankan ketaatan jauh lebih sulit daripada memulainya secara tiba-tiba. Bulan Sya’ban hadir sebagai momentum yang sangat berharga untuk melatih konsistensi sebelum kita memasuki bulan suci Ramadhan. Dengan membangun pondasi yang kuat di bulan ini, seorang hamba akan memiliki ketahanan spiritual agar tidak mudah goyah saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Makna Istiqamah dalam Al-Qur’an

Istiqamah merupakan kemampuan seorang hamba untuk tetap teguh berdiri di atas jalan tauhid dan ketaatan kepada Allah ﷻ secara berkesinambungan. Sikap ini menjadi kunci utama bagi siapa saja yang mengharapkan ketenangan batin serta perlindungan dari rasa takut di dunia maupun akhirat. Allah ﷻ memberikan kabar gembira bagi mereka yang mampu menjaga konsistensi imannya hingga ajal menjemput.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30).

Amalan yang Paling Dicintai Allah ﷻ

Rasulullah ﷺ memberikan bimbingan yang sangat praktis mengenai cara membangun istiqamah dalam beribadah sehari-hari. Beliau ﷺ menekankan bahwa Allah ﷻ melihat kualitas amalan bukan hanya dari jumlah yang besar, melainkan dari keberlanjutannya. Penjelasan tersebut terekam dalam sebuah hadits yang berasal dari ibunda Aisyah رضي الله عنها sebagai teladan bagi kita semua.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Dari Aisyah رضي الله عنها, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten (rutin) dilakukan meskipun sedikit. (HR. Bukhari nomor 6465 dan Muslim nomor 783).

Selanjutnya, kita perlu menyadari bahwa Sya’ban adalah waktu yang ideal untuk melakukan “pemanasan” agar ibadah kita tidak bersifat musiman. Seseorang yang sudah terbiasa berpuasa sunnah atau tilawah di bulan ini akan lebih mudah mempertahankan ritme ketaatannya saat Ramadhan berakhir. Maka dari itu, mulailah dengan amalan ringan yang mampu kita kerjakan setiap hari tanpa rasa terbebani secara berlebihan.

Strategi Meraih Keteguhan Hati

Kita dapat membangun istiqamah dengan memohon pertolongan kepada Allah ﷻ melalui doa agar Dia tidak memalingkan hati kita dari kebenaran. Selain itu, carilah lingkungan pertemanan yang shalih agar senantiasa ada orang yang mengingatkan saat semangat mulai menurun. Kesungguhan dalam menuntut ilmu agama juga akan memperkuat pemahaman sehingga kita memiliki alasan kuat untuk tetap taat.

Apabila istiqamah sudah terbentuk, maka segala bentuk ketaatan akan terasa sebagai kebutuhan pokok yang memberikan rasa damai bagi jiwa. Kekuatan seorang mukmin terletak pada keteguhannya dalam menjalankan sunnah Nabi ﷺ meskipun arus zaman mencoba menyeretnya pada kemaksiatan. Gunakanlah sisa waktu di bulan Sya’ban ini sebagai investasi untuk membentuk karakter hamba yang setia pada syariat-Nya.

Menuju Ramadhan dengan Jiwa Konsisten

Membangun istiqamah memerlukan kesabaran dan perjuangan melawan nafsu yang sering mengajak pada kebosanan dalam beribadah. Sya’ban mengajarkan kita bahwa kesuksesan spiritual bermula dari langkah-langkah kecil yang kita ulang dengan penuh keikhlasan setiap harinya. Jadi, marilah kita perkuat pendirian sekarang juga agar kita mampu meraih puncak ketakwaan di bulan penuh ampunan nanti.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top