Detik-detik berakhirnya bulan Sya’ban menandakan bahwa tamu agung bernama Ramadhan sudah berada di ambang pintu. Seorang Muslim yang bijak tentu tidak akan membiarkan sisa waktu ini berlalu tanpa adanya peningkatan amal yang nyata. Memaksimalkan hari-hari terakhir Sya’ban merupakan kunci utama agar transisi spiritual kita menuju bulan puasa berlangsung dengan sempurna dan penuh keberkahan.
Menuntaskan Hutang Ibadah
Langkah pertama yang harus kita tempuh adalah memastikan bahwa tidak ada kewajiban masa lalu yang masih menggantung. Para ulama menekankan pentingnya menyelesaikan hutang puasa tahun lalu sebelum Ramadhan baru tiba menghampiri kita. Ibunda Aisyah رضي الله عنها memberikan teladan bahwa beliau memanfaatkan waktu Sya’ban untuk menuntaskan kewajiban yang sempat tertunda karena kesibukan melayani Nabi ﷺ.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata: Aku dahulu memiliki hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari nomor 1950 dan Muslim nomor 1146).
Menjaga Larangan Puasa di Akhir Bulan
Meskipun Nabi ﷺ menganjurkan banyak berpuasa di bulan Sya’ban, beliau juga menetapkan batas akhir agar fisik umatnya tetap terjaga. Larangan berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadhan bertujuan agar kita memiliki pembeda yang jelas antara ibadah sunnah dan wajib. Rasulullah ﷺ ingin setiap mukmin memasuki satu Ramadhan dengan kondisi tubuh yang segar dan semangat yang baru.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memang sudah terbiasa menjalankan suatu puasa (sunnah), maka silakan ia berpuasa. (HR. Bukhari nomor 1914 dan Muslim nomor 1082).
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa fokus utama di akhir Sya’ban adalah memperkuat niat dan memperbanyak doa. Allah ﷻ sangat mencintai hamba yang menunjukkan kesungguhan untuk meraih rida-Nya melalui persiapan yang matang dan terencana. Jadi, mari kita gunakan sisa hari ini untuk membersihkan hati dari segala dendam dan penyakit hati agar cahaya Ramadhan mudah masuk ke dalam batin.
Mengatur Strategi Ibadah Ramadhan
Kita dapat memaksimalkan waktu ini dengan menyusun jadwal harian yang lebih disiplin untuk satu bulan ke depan. Tentukanlah target tilawah Al-Qur’an, jumlah sedekah, serta komitmen untuk menjaga shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Persiapan teknis seperti ini akan sangat membantu kita agar tidak bingung atau merasa kewalahan saat arus ibadah mulai meningkat intensitasnya.
Apabila kita sungguh-sungguh dalam menghargai akhir Sya’ban, maka Allah ﷻ akan memberikan taufik-Nya selama bulan suci nanti. Kekuatan seorang mukmin terletak pada kejujurannya dalam mempersiapkan diri sebelum perintah wajib itu benar-benar menyapa. Maka dari itu, marilah kita persembahkan sisa waktu ini dengan memperbanyak istighfar dan dzikir sebagai pembuka jalan menuju ampunan-Nya yang luas.
Doa Menyongsong Hilal Ramadhan
Menyambut bulan suci merupakan anugerah yang tidak setiap orang dapat merasakannya kembali di tahun ini. Sya’ban mengingatkan kita bahwa kesempatan beribadah adalah modal paling mahal yang harus kita syukuri dengan penuh kesadaran diri. Jadi, mulailah melangitkan doa agar Allah ﷻ menyampaikan usia kita pada bulan penuh keberkahan tersebut dalam kondisi sehat walafiat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|
